Ntvnews.id, Taheran - Sektor kesehatan dan industri farmasi Iran menghadapi situasi yang semakin mengkhawatirkan. Kondisi tersebut dipicu oleh sanksi ekonomi, blokade angkatan laut Amerika Serikat (AS) di Selat Hormuz, serta kerusakan sejumlah infrastruktur akibat perang.
Juru Bicara Asosiasi Apoteker Iran, Hadi Ahmadi, mengungkapkan sedikitnya 800 produk farmasi kini mengalami kelangkaan pasokan di berbagai wilayah Iran. Dari jumlah tersebut, sekitar 90 produk merupakan obat esensial yang berperan penting dalam menyelamatkan nyawa pasien.
Sebanyak 400 jenis obat yang mengalami kelangkaan diketahui merupakan produk yang diproduksi di dalam negeri. Pada saat yang sama, tingginya inflasi turut mendorong kenaikan harga berbagai jenis obat.
Berdasarkan data media lokal, harga gabapentin yang digunakan untuk menangani nyeri saraf telah meningkat hingga 220 persen. Sementara itu, harga amoksisilin melonjak 285 persen dan asetaminofen naik hingga 375 persen.
Kenaikan paling signifikan terjadi pada insulin yang dibutuhkan oleh penderita diabetes. Harga hormon tersebut dilaporkan meningkat hingga enam kali lipat dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
"Saya beralih ke versi buatan Iran karena harga dan ketersediaannya," kata Farah, seorang warga Teheran penderita autoimun, dikutip dari Al Jazeera, Jumat, 11 September 2026.
"Anda mungkin tidak akan menemukan versi buatan luar negeri lagi nanti, dan Anda tidak bisa terus berganti-ganti karena kualitas dan efektivitasnya tidak sama," sambungnya.
Baca Juga: MK Kabulkan Sebagian Uji Materiil UU Paten untuk Akses Obat Terjangkau
Kelangkaan obat semakin parah akibat kerusakan fisik yang dialami sekitar 44 perusahaan farmasi dan produsen peralatan medis. Kerusakan tersebut terjadi akibat serangan udara Israel dan AS sejak konflik pecah pada Februari lalu.
Salah satu fasilitas farmasi yang mengalami kerusakan berat adalah Tofigh Daru. Perusahaan tersebut dikenal sebagai produsen bahan aktif untuk obat antikanker, peptida, serta anestesi medis.
Serangan udara menyebabkan berbagai fasilitas penting perusahaan hancur, mulai dari lini produksi dan laboratorium penelitian hingga pusat basis data. Padahal, perusahaan tersebut telah beroperasi selama 26 tahun.
Militer Israel menyatakan Tofigh Daru menjadi sasaran karena diduga memasok bahan fentanil untuk penelitian senjata kimia Kementerian Pertahanan Iran. Namun, tudingan tersebut dibantah keras oleh pihak manajemen perusahaan yang juga memproduksi obat generik glatiramer asetat bagi pasien multiple sclerosis.
"Target audiens kami sebagian besar adalah pasien kanker dan orang-orang dengan penyakit kronis. Serangan udara menghantam semua jalur penelitian dan produksi kami," ujar Direktur Penjualan Tofigh Daru, Maryam Farahani.
"Sungguh disayangkan bahwa banyak tempat yang menjadi sasaran di seluruh Iran adalah lokasi penelitian," lanjutnya.
Ancaman Krisis Gizi
Ilustrasi. Bendera Iran. (Foto: Reuters)
Di tengah semakin banyaknya laporan mengenai kelangkaan obat dan vaksin, otoritas pengawas obat Iran berupaya menenangkan kekhawatiran masyarakat.
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Iran, Mahdi Pirsalehi, menilai pemberitaan mengenai krisis obat sengaja disebarkan media asing untuk melemahkan moral masyarakat. Ia juga mengklaim industri farmasi nasional masih mampu bertahan menghadapi tekanan.
Namun, peringatan berbeda disampaikan sejumlah praktisi medis dan akademisi di Teheran. Mereka menilai kondisi tersebut berpotensi menimbulkan dampak kesehatan yang lebih luas.
Penghapusan subsidi mata uang asing untuk kebutuhan impor medis, yang terjadi bersamaan dengan memburuknya kondisi gizi akibat inflasi harga pangan hingga 123 persen, dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit menular.
Kondisi tersebut juga berpotensi menyebabkan penurunan tingkat kesehatan masyarakat secara luas apabila krisis obat, pangan, dan ekonomi terus berlangsung.
Ilustrasi obat. (Freepik)