Basarnas: Belum Ada Tanda Penemuan 5 Jurnalis di Pulau Sertung

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 11 Sep 2026, 10:07
thumbnail-author
April
Penulis
thumbnail-author
Zaki Islami
Editor
Bagikan
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad memberikan keterangan resmi terkait update hasil pencarian jurnalis yang hilang kontak di perairan Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, Banten pada Rabu, 9 September 2026. Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad memberikan keterangan resmi terkait update hasil pencarian jurnalis yang hilang kontak di perairan Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, Banten pada Rabu, 9 September 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) memastikan belum ada tanda-tanda penemuan lima jurnalis yang hilang kontak di perairan Selat Sunda, khususnya di kawasan Pulau Sertung.

Kepastian ini didapat berdasarkan hasil pemantauan visual menggunakan teropong yang dilakukan oleh tim SAR gabungan hingga Jumat 11 September 2026.

Kepala Kantor SAR Banten, Al Amrad, menjelaskan bahwa tim SAR gabungan bersama nelayan setempat sejatinya telah berupaya menyisir pulau-pulau di sekitar Gunung Anak Krakatau. Namun, pencarian darat secara langsung di Pulau Sertung masih tertahan oleh faktor keselamatan.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan Pulau Sertung sebagai kawasan rawan karena berada di dalam radius bahaya 3 kilometer dari pusat erupsi Gunung Anak Krakatau.

"Untuk Pulau Sertung, itu memasuki radius 3 km. Sebagaimana kita ketahui bersama, data dari PVMBG menyatakan bahwa itu masih daerah rawan," ujar Amrad.

Meski demikian, Amrad menegaskan pihaknya tidak tinggal diam dan terus mencari skenario teraman agar tim bisa mendekat ke lokasi yang dicurigai. "Kami akan tetap berupaya bagaimana kita bisa masuk ke situ dari data BMKG, data BNPB, perkiraan tindakan apa yang harus kita lakukan supaya kita bisa masuk ke situ untuk memastikan," tuturnya.

Selain pemantauan visual jarak jauh, tim Basarnas juga telah mencoba memperluas jangkauan pencarian dari udara. Sebuah drone diterbangkan dari Kapal Negara Search and Rescue (KN SAR) Tetuka di sekitar perairan Pulau Sangiang. Sayangnya, upaya teknologi ini belum memberikan hasil maksimal.

"Untuk hari ini, informasi dari rekan-rekan di lapangan yang di sekitar yang menggunakan drone, yaitu KN SAR Tetuka, mencoba hal tersebut dan hasilnya tidak bisa karena kabut asap sangat tebal," jelas Amrad.

Lebih lanjut, Amrad menegaskan bahwa dalam setiap langkah operasi pencarian ini, keselamatan personel tetap menjadi prioritas utama. Oleh karena itu, pergerakan tim Basarnas sangat bergantung pada informasi cuaca dan aktivitas vulkanik yang diperbarui setiap waktu.

"Jadi, rekan-rekan yang dari BMKG termasuk dari PVMBG itu selalu memberikan informasi. Mereka melaporkan perkembangannya per jam, apabila ada urgensi, itu akan disampaikan ke kami," katanya.

Sebagai informasi, lima pewarta foto dan video dilaporkan hilang kontak sejak Senin 7 September lalu. Rombongan tersebut tengah dalam perjalanan menuju kawasan perairan Selat Sunda guna meliput secara langsung aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

Kelima jurnalis tersebut adalah Muhammad Bagus Khoirunas dari LKBN Antara, Arie Basuki dari Merdeka.com, Donal Husni (fotografer lepas), Yudhistira dari iNews, dan Daus dari kantor berita Anadolu. Mereka diketahui bertolak menaiki speedboat dari Pantai Carita bersama tiga kru lainnya, yang terdiri dari satu nakhoda, satu anak buah kapal (ABK), dan satu pemandu (guide).

x|close