Ntvnews.id, Jakarta - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Taruna Ikrar menyatakan, kesehatan harus benar-benar ditempatkan sebagai fondasi utama pembangunan bangsa. Kesehatan, kata dia bukan cuma jadi penentu kualitas hidup, tapi juga merupakan investasi strategis yang menentukan daya saing masa depan RI.
Ini disampaikan Taruna dalam Dialog Kebangsaan bertajuk "Rakyat Sehat, Negara Kuat" yang digelar Forum Masyarakat Indonesia Emas (FORMAS) pada hari ini, Junat, 11 September 2026.
Dalam kesempatan itu, Taruna Ikrar mengungkapkan upaya yang sedang dibangun BPOM guna mempercepat transformasi sektor kesehatan nasional melalui penguatan inovasi, hilirisasi riset, dan pengembangan obat berbahan alam berbasis bukti ilmiah.
"Hebatnya Nusantara ini, memiliki 30.000 lebih sumber daya herbal yang mampu untuk menghasilkan obat-obat herbal. Di mana obat-obatan ini berasal dari alam," ujarnya, Jakarta, Jumat, 11 September 2026.
Baca Juga: Akselerasi Vaksin 100 Hari: Langkah BPOM Mencegah Pandemi Baru
Dialog
Menurut dia, jika potensi tersebut dikembangkan secara optimal, nilai ekonominya dapat mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahun. Angka tersebut, kata dia berdasarkan perhitungan yang dilakukan dari potensi industri wellness dan herbal.
"Wellness seluruh dunia itu 1,7 triliun US dollar, dikali 18.000, itu berarti sudah puluhan ribu triliun. Khusus untuk herbalnya Indonesia, Rp350 triliun," jelasnya.
Walau begitu, kata Taruna, pemanfaatan potensi tersebut masih sangat kecil dibandingkan peluang yang tersedia. Ia menyebut nilai herbal yang saat ini berhasil dimanfaatkan baru sekitar Rp1,2 triliun.
Lebih lanjut, kata Taruna, negara yang kuat hanya dapat dibangun oleh rakyat yang sehat, produktif, dan memiliki kemampuan untuk berkontribusi terhadap pembangunan.
Baca Juga: Berbalut Pakaian Budaya Nusantara, Taruna Ikrar: WLA Kado HUT RI ke-81 dari BPOM
Atas itu, kata dia, kebijakan kesehatan tak boleh hanya berfokus pada pengobatan ketika masyarakat sakit. Tapi juga harus meliputi promosi kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan, dan pemulihan secara terpadu.
Bukan cuma memastikan keamanan, mutu, dan manfaat produk yang beredar, BPOM juga ingin menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem inovasi kesehatan nasional yang mampu menghasilkan produk berkualitas dan berdaya saing global.
Kepala BPOM susun peta jalan kemandirian kesehatan nasional.
Taruna menilai Indonesia punya peluang besar untuk menjadi salah satu kekuatan dunia dalam pengembangan produk kesehatan berbasis bahan alam.
Melalui sekitar 31.000 sumber daya hayati yang berpotensi dikembangkan jadi produk kesehatan, RI memiliki modal yang sangat besar guna membangun kemandirian sekaligus memperkuat ekonomi nasional.
Potensi produk tersebut, harus dibangun melalui pendekatan ilmiah yang ketat, mulai dari kualitas bahan baku, proses produksi, standar mutu, keamanan penggunaan, sampai pembuktian khasiatnya.
BPOM pun mendorong perubahan paradigma dari pendekatan tradisional menuju pendekatan berbasis sains.
Perubahan istilah dari "obat tradisional" jadi "obat berbahan alam" menunjukkan komitmen kuat BPOM untuk menghadirkan produk yang semakin ilmiah, terpercaya, dan mampu bersaing di tingkat global.
Kendati RI punya lebih dari 20.964 produk jamu yang terdaftar, jumlah produk yang berhasil naik kelas dirasa masih relatif terbatas.
Data BPOM menunjukkan baru terdapat 72 produk Obat Herbal Terstandar dan 25 produk Fitofarmaka. Taruna menilai, angka itu memperlihatkan tantangan terbesar bukan lagi pada kuantitas, namun bagaimana meningkatkan kualitas pembuktian ilmiah agar produk nasional memiliki daya saing yang lebih tinggi.
Ia memandang, sangat banyak hasil penelitian yang berakhir sebagai publikasi akademik atau prototipe tanpa pernah berkembang menjadi produk yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Padahal, kata Taruna industri membutuhkan inovasi yang siap dikembangkan dan masyarakat membutuhkan produk kesehatan yang aman serta terbukti manfaatnya.
Karenanya, guna menjembatani kesenjangan ini, BPOM meluncurkan BRIDGE (Bersinergi dalam Riset Inovatif, Berdaya Saing Global, dan Ekspansi Pasar), atau sebuah platform yang dirancang untuk mempertemukan peneliti dengan dunia usaha agar hasil riset dapat lebih cepat memasuki proses hilirisasi dan komersialisasi.
Dengan begitu, BPOM ingin memastikan riset tidak berhenti di meja laboratorium.
"Penelitian harus berkembang jadi inovasi, inovasi harus menjadi produk yang memenuhi standar, serta produk yang memiliki bukti ilmiah kuat harus memperoleh peluang lebih besar untuk digunakan dalam pelayanan kesehatan nasional," jelasnya.
BPOM turut mendorong lebih banyak obat berbahan alam berbasis bukti masuk ke Formularium Nasional. Sehingga, bisa diakses masyarakat melalui sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Ini bagian dari strategi besar membangun kemandirian kesehatan Indonesia yang bertumpu pada kekuatan riset, serta sumber daya dalam negeri.
Dialog
Bagi Taruna, agenda sebesar ini tidak mungkin diselesaikan oleh satu lembaga. Perguruan tinggi, industri, tenaga kesehatan, organisasi masyarakat, dan pemerintah harus bergerak dalam satu ekosistem yang saling terhubung.
Ia lantas mendorong pembentukan kolaborasi lintas sektor yang lebih terstruktur untuk mengawal riset, mempercepat hilirisasi, dan memperkuat produksi nasional.
Kepada pemangku kepentingan, Taruna menitipkan tiga pesan utama, yakni kesehatan harus dipandang sebagai investasi strategis bangsa.
Kedua, kekayaan alam Indonesia harus dikembangkan melalui ilmu pengetahuan agar menghasilkan produk yang aman, bermutu, dan berdaya saing. Dan terakhir, kolaborasi harus menghasilkan langkah nyata yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Kepala BPOM Taruna Ikrar.