NTVNews.id, Jakarta - Dari pelabuhan sibuk hingga pulau yang nyaris tak terdengar sebutannya, ada kisah mengenai Indonesia yang terus bergerak setiap harinya. Di antara riuh deburan ombak laut dan gesekan mesin kapal, ASDP hadir yang tak sekadar mengantar penumpang menyeberangi selat, tetapi turut merajut Indonesia agar tetap terhubung dari Sabang sampai Merauke.
Saat aktivitas di pelabuhan mulai menggeliat, kapal mulai meninggalkan dermaga demi menuju tujuan di seberang sana, barangkali jarak antarpulau terlihat sederhana. Hanya hamparan biru memisahkan satu daratan dengan daratan lain. Tetapi bagi Indonesia, negara kepulauan dengan ribuan pulau dan ratusan juta penduduk, itu bisa jadi tantangan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2025, tercatat Indonesia memiliki 17.830 pulau dengan jumlah penduduk mencapai sekitar 284,4 juta jiwa.
Papua Barat jadi provinsi dengan jumlah pulau terbanyak, yakni 4.520 pulau, Kepulauan Riau 2.028 pulau, Sulawesi Tengah 1.572 pulau, Maluku 1.388 pulau, Maluku Utara 901 pulau, dan Nusa Tenggara Timur 609 pulau.
Data tersebut bukan sekadar angka. Di baliknya ada manusia yang harus tetap melakukan beragam aktivitas, dari pedagang harus mengirim barang hingga keluarga ingin bertemu orang tercinta di pulau seberang.
Maka, laut bagi Indonesia bukanlah pemisah. Laut ibaratnya jalan raya yang menghubungkan kehidupan. Dan di jalan raya itulah PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mengambil peran.
Laut Jadi Penghubung
Kapal penyeberangan ferry milik PT ASDP sedang berlabuh. Antara/HO-ASDP
Indonesia yang dikenal sebagai negara kepulauan, rasanya tidak mungkin kalau hanya mengandalkan jalan raya dan jalur udara untuk menjaga aktivitas masyarakatnya.
Di negara yang dipisahkan laut, transportasi penyeberangan memiliki posisi sangat strategis. Kapal ferry menjadi jembatan bergerak yang menghubungkan kawasan, membuka akses ekonomi, hingga menjaga distribusi barang dan mobilitas masyarakat.
Di sinilah ASDP hadir. PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) yang merupakan BUMN bergerak dalam jasa penyeberangan dan pelabuhan terintegrasi. Perannya itu terus berkembang, bukan hanya sebagai operator kapal, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem konektivitas nasional.
Melansir dari situs resmi ASDP, ASDP menjalankan armada ferry sebanyak lebih dari 222 unit kapal yang melayani 320 lintasan dan 37 pelabuhan di seluruh Indonesia, serta mengembangkan bisnis lainnya terkait pengembangan kawasan pelabuhan, seperti Bakauheni Harbour City di Provinsi Lampung.
Merak-Bakauheni
Kendaraan masuk kapal feri di Pelabuhan Merak, Kota Cilegon, Banten, Minggu, 6 September 2026. ASDP pastikan layanan penyeberangan normal. (Antara)
Salah satu contoh konektivitas penyeberangan dan bagaimana itu bisa penting bagi Indonesia, coba tengoklah lintasan Merak-Bakauheni.
Di antara Pulau Jawa dan Sumatera, lintasan itu menjadi salah satu urat nadi transportasi nasional. Mobilitas masyarakat dan kendaraan mengalir melalui jalur tersebut setiap harinya.
ASDP mencatat, sekitar 67 persen lalu lintas yang dilayaninya melintasi koridor Merak-Bakauheni. Jalur tersebut kian strategis seiring meningkatnya mobilitas dan konektivitas yang didukung pembangunan Tol Trans-Sumatera.
Karena itu, penguatan kapasitas pelabuhan, dermaga, armada, serta digitalisasi menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Konektivitas bukan hanya soal kapal berangkat tepat waktu, tetapi sebarapa cepat, aman, nyaman, dan efisien seseorang maupun barang dapat berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain.
ASDP pun terus melakukan transformasi untuk menjawab kebutuhan tersebut. Mulai dari penguatan layanan digital, optimalisasi operasional kapal, peningkatan infrastruktur, hingga pembenahan fasilitas pengguna jasa.
Menjangkau yang Terluar
Kapal ASDP di Pelabuhan Merak (ASDP)
Kisah konektivitas ASDP tidak berhenti di lintasan-lintasan sibuk belaka. Ada cerita lain yang barangkali jauh lebih sunyi lagi.
Cerita tentang pulau-pulau yang berada jauh dari pusat pertumbuhan ekonomi. Tentang masyarakat yang harus menunggu kapal untuk membawa kebutuhan sehari-hari, daerah yang secara geografis terasa jauh, tetapi tidak boleh dibiarkan terisolasi.
Di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), transportasi penyeberangan punya makna tersendiri. Ia bukan semata-mata bisnis, tetapi kehadiran negara.
ASDP mengelola sekitar 210 lintasan perintis dengan dukungan 83 kapal. Pada 2025 saja, pemerintah mengalokasikan subsidi angkutan perintis sekitar Rp450,4 miliar untuk memastikan masyarakat di wilayah terpencil dan terluar tetap memperoleh akses transportasi.
"Layanan perintis bukan sekadar penugasan, tetapi bagian dari misi negara untuk menghadirkan keadilan akses transportasi laut. Bahkan, sejumlah rute telah tumbuh dan naik kelas menjadi komersial, mencerminkan meningkatnya aktivitas ekonomi lokal," kata Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Heru Widodo di Labuan Bajo, pada 25 Mei 2025.
Di tempat-tempat tertentu, kapal ferry bisa menjadi satu-satunya penghubung yang memungkinkan masyarakat membawa hasil bumi ke pasar, memperoleh kebutuhan pokok, mengakses layanan kesehatan, atau bepergian ke wilayah yang lebih berkembang.
Menariknya, sejumlah lintasan perintis yang dahulu sepi perlahan berkembang seiring tumbuhnya aktivitas ekonomi.
Pada 2023, sebanyak 10 rute perintis sudah bertransformasi menjadi layanan komersial. Di sana terlihat satu hal penting, yakni ketika konektivitas dibuka, ekonomi memiliki ruang untuk tumbuh.
Dari Pelabuhan Menuju Destinasi
Ilustrasi Vision Masterplan Kawasan Bakauheni Harbour City. (Antara/PT ASDP)
Jika pelabuhan yang selama ini kerap dipandang sebagai lokasi kapal datang dan pergi. Namun, ASDP melihatkanya dari sudut pandang yang jauh lebih luas.
Pelabuhan bisa menjadi pintu menuju pertumbuhan ekomoni baru. Konsep itulah yang kemudian dikembangkan melalui waterfront tourism, sebuah pendekatan yang memadukan fungsi konektivitas dengan pariwisata, ruang publik, UMKM, hingga ekonomi kreatif.
Satu contoh, Bakauheni Harbour City (BHC) di Lampung Selatan, kawasan dengan luas sekitar 160 hektare dikembangkan bukan sekadar untuk tempat transit penumpang. BHC justru diarahkan jadi kawasan wisata maritim dan ruang ekonomi baru.
Isinya, ada pasar Siger yang juga jadi ruang bagi UMKM, galeri seni dan amphitheater berkapasitas hingga 10.000 orang.
Artinya, seseorang yang baru saja tiba di pelabuhan, bukan cuma untuk melanjutkan perjalanan. Tapi, punya alasan untuk tinggal lebih lama. Menikmati suasana, mencicipi kuliner, membeli produk UMKM hingga menyaksikan pertunjukan seni.
Ketika Pelabuhan jadi Gerbang Pariwisata Dunia
ASDP Kembangkan Waterfront Marina Labuan Bajo dan BHC (ASDP)
Selain itu, transfortasi serupa juga tampak di Labuan Bajo. Lewat anak usaha PT Indonesia Ferry Properti (IFPRO), ASDP mengembangkan Kawasan Terpadu Marina Labuan Bajo terintegrasi dengan Hotel Meruorah Komodo, Plaza Marina, dan marina berkapasitas sekitar 135 kapal yacht.
Hasilnya, kawasan itu tak hanya jadi fasilitas pendukung perjalanan laut, tetapu jadi bagian dari wajah baru pariwisata Indonesia. Berbagai agenda pun sempat digelar, termasuk kegiatan ASEAN dan G20.
"Pelabuhan kini bukan hanya gerbang logistik, melainkan gerbang pengalaman pertama bagi wisatawan. Melalui pendekatan waterfront yang holistik, kami mendorong pelabuhan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru, pemberdaya UMKM, dan pengungkit daya saing pariwisata nasional," kata Heru.
Menembus Batas Pulau
Dorong Konektivitas RoRo Batam–Johor (ASDP)
Selain konektivitas nasional, juga membutuhkan keberanian untuk menjangkau sampai ke luar negeri. Maka, rencana pengembangan rute internasional Batam-Johor Bahru jadi langkah strategis ASDP dalam memperkuat konektivitas maritim.
Dalam hal ini, Batam punya posisi geografis strategis, berada di jalur perdagangan internasional serta berdekatan dengan Malaysia dan Singapura. Artinya, wilayah itu memiliki potensi menjadi pintu gerbang konektivitas laut Indonesia dengan kawasan regional.
ASDP pun sudah melakukan koordinasi dengan berbagai kementerian dan pemangku kepentingan untuk mempersiapkan pengembangan rute tersebut.
Selain itu, penjajakan kerja sama dengan Pelabuhan Abu Dhabi juga menjadi bagian dari upaya memperluas perspektif pengelolaan pelabuhan dan investasi infrastruktur penyeberangan internasional.
Artinya, konektivitas domestik adalah cara RI merajut pulau-pulaunya, maka konektivitas internasional merupakan cara Indonesia membuka simpul-simpul baru dengan dunia.
Saat Lebaran Datang
Pelabuhan Gilimanuk (Bakom)
Ada satu momen saat lebaran, bagaimana arti konektivitas itu terasa begitu nyata. Saat jutaan manusia bergerak di hampir waktu yang sama, pelabuhan pun berubah jadi keramaian.
Pada angkutan Lebaran 1447 Hijriah, ASDP memantau 15 lintasan nasional dengan total penumpang sejak H-10 hingga hari H mencapai 2.596.597 orang, meningkat 5,4 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Saat itu, tercatat kendaraan yang diangkut mencapai 667.526 unit, naik 7,2 persen.
"Secara kumulatif sejak H-10 hingga hari H Lebaran, total penumpang mencapai 2.596.597 orang atau naik 5,4 persen dibandingkan tahun lalu (2025) sebanyak 2.463.910 orang," kata Direktur Utama ASDP Heru Widodo dalam keterangan di Jakarta, Minggu, 23 Maret 2026.
Membeludaknya para pemudik, mmebuat ASDP melakukan penyesuaian pola operasi kapal, menyiapkan personel, serta berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Rekayasa lalu lintas juga diterapkan, termasuk pengalihan kendaraan dan delaying system di sejumlah buffer zone.
Saat Kapal Mengangkut Lebih dari Sekadar Penumpang
Pelabuhan Gilimanuk (ASDP)
Ada kisah lain ketika kapal ASDP menjalankan misi yang jauh melampaui rutinitas pelayanan penyeberangan. Itu ketika bencana datang, konektivitas berubah menjadi urat nadi kemanusiaan.
Hal tersebut terlihat dalam dukungan ASDP terhadap proses pemulihan masyarakat Nusa Tenggara Timur pascagempa. KMP Ile Ape dikerahkan untuk membantu memobilisasi bantuan menuju Palue, Kabupaten Sikka.
"Kami ingin kapal ASDP menjadi bagian dari upaya bersama untuk mengantarkan bantuan, relawan, peralatan, dan kebutuhan dasar kepada mereka yang membutuhkan," kata Heru di Jakarta, Rabu, 2 September 2026.
Berangkat dari Pelabuhan Kewapante, Maumere, kapal yang membawa puluhan penumpang, kendaraan, serta sekitar lima ton barang.
Muatan yang dibawa bukan sekadar barang, ada makanan, air minum, obat-obatan serta perkelengkapan medis, pakaian, selimut, tenda, perlengkapan tidur, popok, hingga kebutuhan bayi.
Selain itu, terdapat pula kendaraan dan peralatan yang diperlukan untuk mendukung penanganan saat di lapangan.
ASDP Perkuat Kapasitas Dermaga Gilimanuk
Dermaga Gilimanuk (ASDP)
PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) tak berhenti di sana untuk terus merajut konektivitas nasional. Infrastruktur penyeberangan lintasan Jawa–Bali diperkuat melalui peningkatan kapasitas Dermaga 2 Pelabuhan Gilimanuk, Bali.
Pengembangan tersebut merupakan bagian dari investasi jangka panjang untuk meningkatkan kapasitas, pemeliharaan operasional hingga penyediaan layanan dalam mengantisipasi pertumbuhan mobilitas masyarakat dan distribusi logistik.
"Peningkatan kapasitas Dermaga 2 Gilimanuk dari 30 ton menjadi 50 ton merupakan bagian dari investasi jangka panjang ASDP dalam memperkuat persyaratan layanan Jawa – Bali. Dengan kapasitas infrastruktur yang semakin memadai, kami ingin menciptakan kelancaran operasional yang lebih baik, mempercepat proses pelayanan kendaraan, serta mendukung kelancaran transmisi masyarakat dan distribusi logistik," kata Heru Widodo di Jakarta, Selasa, 1 September 2026.
ASDP Catat Laba Rp285 Miliar pada 2025
Kapal (ASDP)
Hingga akhir 2025, ASDP mencatat laba konsolidasi Rp285,4 miliar, dengan pendapatan usaha sebesar Rp4,96 triliun.
Corporate Secretary ASDP Windy Andale menuturkan, perseroan juga memperkuat perannya sebagai penghubung wilayah RI, khususnya daerah 3TP (tertinggal, terdepan, terluar, dan perbatasan).
Adapun layanan penyeberangan perintis ASDP mencatat lebih dari 93 ribu trip, atau tumbuh 11 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya dan melampaui target perusahaan hingga akhir 2025.
Selain itu, angkutan kendaraan juga mengalami pengingkatan 15 persen menjadi lebih dari 556 ribu unit.
"Capaian menegaskan peran strategis ASDP, bukan hanya sebagai operator transportasi, tapi juga perekat konektivitas dan penggerak ekonomi nasional," ujar Windy, Minggu, 10 Mei 2026.
Dalam hal ini, membahas ASDP berarti membicarakan sesuatu hal yang jauh lebih besar dari sekadar kapal dan pelabuhan. Kisah mengenai Indonesia dengan geografisnya yang terpisah oleh lautan.
Konektivitas, membuka pintu bagi aktivitas masyarakatnya. Mengenai bagaimana transportasi dapat mempersingkat waktu distribusi logistik hingga membuka akses bagi masyarakat 3T. ASDP terus memperluas konektivitas laut Indonesia.
Pelabuhan Gilimanuk (ASDP)