Viral Gajah Zidan Dirantai di Kebun Binatang Bukittinggi, Ternyata Ini Alasannya

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 13 Sep 2026, 20:30
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Ramses Manurung
Editor
Bagikan
Pemerintah Kota (Pemkot) Bukittinggi, Sumatera Barat (Sumbar) bersama Dinas Pariwisata Bukittinggi memastikan gajah sumatera jantan bernama Zidan mendapat perawatan dan penanganan optimal selama berada di Taman Marga Satwa Kinantan (TMSBK). (Antara) Pemerintah Kota (Pemkot) Bukittinggi, Sumatera Barat (Sumbar) bersama Dinas Pariwisata Bukittinggi memastikan gajah sumatera jantan bernama Zidan mendapat perawatan dan penanganan optimal selama berada di Taman Marga Satwa Kinantan (TMSBK). (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Pemerintah Kota (Pemkot) Bukittinggi, Sumatera Barat (Sumbar) bersama Dinas Pariwisata Bukittinggi memastikan gajah sumatera jantan bernama Zidan mendapat perawatan dan penanganan optimal selama berada di Taman Marga Satwa Kinantan (TMSBK).

Kepala Dinas Pariwisata Bukittinggi Rofie Hendria mengatakan, Zidan telah menjadi bagian dari TMSBK selama 25 tahun sejak masuk pada tahun 2001 dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Sebanga, Riau saat usianya sembilan tahun.

"Kami memastikan Zidan tetap mendapatkan pakan dan perawatan kesehatan sesuai kebutuhan. Penanganan juga dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi perilaku satwa serta keselamatan petugas dan pengunjung," ucap Rofie, Minggu 13 September 2026.

Ia mengatakan selama masa perawatannya Zidan dikenal berperilaku normal dan ditangani dengan baik oleh pihak pengelola. 

Baca juga: Kebakaran di TN Way Kambas Berhasil Dipadamkan, Seluruh Gajah Dipastikan Aman

Namun, dinamika perilaku satwa mulai berubah dalam beberapa tahun terakhir.

"Gajah Zidan dilaporkan mulai agresif sejak tahun 2022 akibat periode musth (masa kenaikan hormon yang tidak teratur), sehingga sulit dilatih dan berulang kali melukai para pawangnya, petugas lain, serta gajah betina koleksi lainnya bernama Lia," kata dia.

Ia mengatakan kondisi ini dikhawatirkan dapat menimbulkan dampak buruk bagi keselamatan Zidan maupun keamanan pengunjung.

"Kami melihat kondisi Zidan perlu ditangani secara hati-hati, karena perilakunya sudah sulit diprediksi. Karena itu, aspek keselamatan menjadi pertimbangan utama dalam setiap penanganannya, baik untuk satwa maupun orang-orang yang berada di sekitarnya," ujarnya.

Ia mengemukakan perubahan perilaku Zidan yang semakin sulit dikendalikan berdampak pada penanganannya. Mahout (tenaga berpengalaman) yang selama ini mendampingi Zidan khirnya mengundurkan diri pada Juni 2024, karena merasa tidak sanggup menangani kondisi satwa tersebut.

Untuk mengantisipasi kekosongan mahout, TMSBK kemudian menugaskan petugas internal yang sebelumnya memiliki pengalaman merawat Zidan dan Lia.

Petugas tersebut juga diberikan peningkatan kapasitas melalui bimbingan teknis mahout di PLG Padang Sugihan serta kunjungan dan sosialisasi ke PLG Way Kambas.

Ia menyatakan selain perubahan perilaku, kondisi kesehatan Zidan uga sempat membutuhkan perhatian dan penanganan khusus. 

"Selain persoalan perilaku, Zidan juga pernah mengalami gangguan kesehatan, salah satunya luka abses pada bagian pinggul kiri akibat kebiasaan tidur dengan posisi miring ke sisi tersebut," kata dia.

Ia menyatakan penanganan intensif telah dilakukan TMSBK, termasuk tindakan medis pembiusan pada Maret 2023, April 2024, dan Mei 2024, bekerja sama dengan dokter hewan untuk pengobatan luka serta pengambilan sampel.

Penanganan medis lanjutan kembali dilakukan melalui pembiusan pada 21 Januari 2025 untuk mengobati luka kaki depan, mengganti rantai, serta memindahkan ikatan rantai dari kaki kanan ke kaki kiri dengan bantuan tiga mahout dari Taman Satwa Kandi Sawahlunto.

Ia mengatakan mengingat kondisi agresivitas yang semakin membahayakan, TMSBK bersama Balai Konversasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan tim dokter hewan berkoordinasi untuk mengambil langkah pengamanan darurat.

Baca juga: Luncurkan SRAK Gajah, Menhut Tegaskan Pentingnya Eksekusi Nyata di Lapangan

"Saat ini, gajah Zidan terpaksa ditempatkan di kandang tidur dengan rantai pada kaki kiri depan dan belakang demi keselamatan staf, memudahkan pembersihan kandang, serta kelancaran pemberian pakan harian yang dilengkapi multivitamin rutin," ujarnya.

Ia mengemukakan keterbatasan fasilitas penanganan satwa dengan kondisi khusus tersebut Pemkot Bukittinggi telah mengambil langkah strategis dengan menyurati Kementerian Kehutanan melalui BKSDA Sumbar agar segera dilakukan evakuasi terhadap Zidan e lembaga konservasi lain yang memiliki sarana dan prasarana lebih lengkap.

Ia menegaskan bahwa poin paling penting dari seluruh langkah pengamanan dan pembatasan ruang gerak ini semata-mata didasarkan pada pertimbangan keselamatan kerja dan mitigasi risiko. (Sumber:Antara)

x|close