Ntvnews.id, Taheran - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkapkan bahwa aksi kekerasan dalam gelombang demonstrasi di negaranya diduga dipicu oleh arahan dari asing, termasuk perintah untuk menembaki warga sipil dan aparat keamanan.
"Kami memiliki rekaman pesan suara yang dikirim dari luar negeri kepada teroris (perusuh): jika ada polisi, tembak polisi. Jika tidak, serang warga sipil," kata Araghchi, seperti dikutip kantor berita SNN Iran, Selasa, 13 Januari 2026.
Ia menambahkan, pesan tersebut secara tegas mendorong peningkatan jumlah korban serta pertumpahan darah sebagai sasaran utama.
Gelombang aksi protes di Iran mulai pecah pada akhir Desember 2025, dipicu kekhawatiran publik atas lonjakan inflasi akibat melemahnya nilai tukar rial. Para pengunjuk rasa mempersoalkan fluktuasi tajam mata uang nasional yang berdampak langsung pada kenaikan harga barang di tingkat grosir maupun eceran.
Baca Juga: Trump Pertimbangkan Opsi Lakukan Serangan ke Iran
Kondisi ini turut berujung pada pengunduran diri Gubernur Bank Sentral Iran Mohammad Reza Farzin.
Sejak 8 Januari, intensitas unjuk rasa dilaporkan meningkat menyusul seruan dari Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang digulingkan pada 1979.
Ilustrasi - Aksi protes di Iran. Anadolu/as. (Antara)
Sebagai langkah pengendalian, otoritas Iran memutus akses internet dengan alasan untuk membatasi pengaruh asing terhadap para demonstran.
Di sejumlah kota, unjuk rasa berkembang menjadi bentrokan dengan aparat kepolisian, diiringi teriakan slogan-slogan anti pemerintah. Laporan juga menyebutkan adanya korban jiwa, baik dari kalangan aparat maupun demonstran.
Baca Juga: Demo Iran Makin Ngeri, Korban Tewas Capai 217 Orang
Dalam pertemuan dengan para duta besar asing pada Senin, Araghchi menyampaikan bahwa kondisi keamanan telah berhasil dikendalikan.
"Situasi terkendali," katanya, sembari menegaskan bahwa pembatasan internet masih akan diberlakukan hingga keadaan dinilai benar-benar kondusif.
Demo Iran (Anadolu)