AS Perintahkan Warganya Tinggalkan Iran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 13 Jan 2026, 19:15
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Penulis & Editor
Bagikan
Ilustrasi - Aksi protes di Iran. Anadolu/as. Ilustrasi - Aksi protes di Iran. Anadolu/as. (Antara)

Ntvnews.id, Washington DC - Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) virtual untuk Iran mengeluarkan peringatan keamanan kepada warga negaranya pada Senin, 12 Januari 2026 waktu setempat, dengan instruksi agar segera meninggalkan Iran seiring meningkatnya kerusuhan di negara tersebut.

“Tinggalkan Iran sekarang,” kata kedutaan dalam peringatan keamanan itu, seraya mendesak warga AS untuk mengatur rencana keberangkatan dari Iran tanpa mengandalkan bantuan pemerintah Amerika Serikat, dikutip dari laman Anadolu, Selasa, 13 Januari 2026.

“Jika Anda tidak dapat pergi, carilah lokasi yang aman di dalam tempat tinggal Anda atau bangunan aman lainnya,” tambah pernyataan tersebut.

Dalam peringatannya, kedutaan juga meminta warga AS yang masih berada di Iran untuk mengantisipasi kemungkinan pemadaman internet yang berkepanjangan. Mereka diminta menyiapkan alternatif komunikasi dan, “jika aman dapat mempertimbangkan untuk meninggalkan Iran melalui jalur darat ke Armenia atau Turki.”

Baca Juga: Ada 646 Korban Tewas Akibat Gelombang Protes di Iran, 10.721 Orang Ditangkap

Kedutaan turut menegaskan bahwa warga negara ganda AS-Iran diwajibkan meninggalkan Iran menggunakan paspor Iran. Hal itu karena pemerintah Iran tidak mengakui kewarganegaraan ganda dan hanya akan memperlakukan mereka sebagai warga negara Iran.

“Menunjukkan paspor AS atau hubungan dengan Amerika Serikat dapat menjadi alasan yang cukup bagi otoritas Iran untuk menahan seseorang,” katanya.

Peringatan tersebut muncul di tengah meningkatnya demonstrasi antipemerintah di Iran. Pada Senin, Presiden AS Donald Trump mengumumkan penerapan tarif sebesar 25 persen terhadap “semua” negara yang tetap berbisnis dengan Iran.

Trump juga berulang kali mengancam akan menyerang Iran jika otoritas setempat menggunakan kekuatan mematikan untuk menekan aksi protes. Meski demikian, ia menyatakan tetap terbuka untuk menjajaki jalur diplomasi dengan Teheran.

Sejumlah laporan menyebutkan bahwa pada Senin, Trump menerima pengarahan mengenai berbagai opsi tindakan terhadap Iran selain serangan udara militer konvensional. CBS News melaporkan bahwa opsi tersebut mencakup penggunaan instrumen militer lain serta operasi rahasia, termasuk kemungkinan operasi siber dan kampanye psikologis.

Baca Juga: Trump Berlakukan Tarif 25 Persen untuk Negara yang Masih Berdagang dengan Iran

Mengutip dua pejabat Pentagon, CBS News menyebutkan bahwa operasi siber dan psikologis itu dapat dijalankan secara terpisah maupun bersamaan, meski hingga kini belum ada keputusan final.

Laporan tersebut juga menyatakan bahwa tim keamanan nasional Trump dijadwalkan membahas opsi terbaru terkait Iran dalam pertemuan di Gedung Putih pada Selasa.

Sebelumnya, pada Minggu, Trump mengatakan pemerintahannya terus memantau situasi di Iran secara saksama dan tengah mempertimbangkan “opsi yang sangat kuat” menyusul meningkatnya jumlah korban tewas dalam gelombang protes yang berlangsung.

“Kami akan membuat keputusan,” kata Trump, seraya menambahkan bahwa dirinya menerima laporan setiap jam mengenai kondisi di Iran, tanpa merinci kapan, di mana, atau bagaimana Amerika Serikat akan bertindak.

x|close