Iran Tak Gentar dengan Gertakan Trump

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 29 Jan 2026, 14:20
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arsip Foto - Rabu, 8 Januari 2020 Bendera Iran yang berada di markas besar PBB di  New York, AS. Arsip Foto - Rabu, 8 Januari 2020 Bendera Iran yang berada di markas besar PBB di New York, AS. ((Antara) )

Ntvnews.id, Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melontarkan ancaman bahwa Washington siap melakukan aksi militer terhadap Iran. Menanggapi hal itu, Teheran menegaskan telah menyiapkan langkah balasan apabila serangan tersebut benar-benar terjadi.

Tekanan terhadap Iran kian meningkat seiring tuntutan agar negara tersebut segera mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya. Kanselir Jerman Friedrich Merz bahkan menyebut bahwa "hari-hari pemerintah Iran sudah dihitung".

Di saat yang sama, mata uang Iran mengalami kejatuhan ke level terendah sepanjang sejarah, yakni 1,6 juta rial per dolar AS. Kondisi ini terjadi sekitar sebulan setelah pecahnya protes nasional yang dipicu persoalan ekonomi, sebagaimana disampaikan para pedagang valuta asing setempat.

Menanggapi ancaman intervensi militer dari Trump, Misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan pihaknya terbuka terhadap "dialog berdasarkan rasa saling menghormati". Namun Iran juga memperingatkan akan memberikan pembalasan yang belum pernah terjadi sebelumnya jika dipaksa.

Baca Juga: Trump: Armada Besar AS Menuju Iran

“Terakhir kali AS melakukan kesalahan dengan terlibat perang di Afghanistan dan Irak, mereka menghamburkan lebih dari $7 triliun dan kehilangan lebih dari 7.000 nyawa warga Amerika,” kata misi Iran dalam sebuah unggahan di X, seperti dikutip dari Al Jazeera, Kamis, 29 Januari 2026.

“Iran siap untuk berdialog berdasarkan rasa saling menghormati dan kepentingan bersama. Tetap jika terus ditekan kami akan membela diri dan merespons seperti belum pernah terjadi sebelumnya!”

Situasi ini disebut belum pernah terjadi sebelumnya, baik dari sisi skala maupun struktur kekuatan. Kapal induk, kapal selam, hingga pesawat pengebom jarak jauh AS dilaporkan bergerak menuju posisi siap tempur. Langkah tersebut bukan mengarah pada invasi darat, melainkan menunjukkan konfigurasi serangan udara dan maritim yang siap digunakan dalam peperangan.

Amerika Serikat menegaskan bahwa opsi militer tetap tersedia. Washington juga menyampaikan tuntutan tegas kepada Iran, mulai dari pengurangan persediaan dan jangkauan rudal balistik—khususnya yang mampu menjangkau Israel—penghentian total pengayaan nuklir, penghentian dukungan terhadap kelompok bersenjata di kawasan, hingga penghapusan ancaman terhadap keamanan Israel.

Arsip foto - Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. (Foto: ANTARA/Anadolu/py) Arsip foto - Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. (Foto: ANTARA/Anadolu/py)

Sebaliknya, Iran juga menetapkan garis merah yang sama tegasnya. Rudal balistik disebut tidak dapat dinegosiasikan, sementara pengakuan terhadap Israel ditolak sepenuhnya. Meski demikian, Teheran menyatakan kesediaan untuk melanjutkan perundingan terkait isu nuklir.

Iran juga memperingatkan bahwa jika diserang, mereka akan melakukan pembalasan dengan rudal balistik. Target potensial disebut mencakup Israel serta pangkalan-pangkalan AS di berbagai wilayah. Sekutu Iran pun mengisyaratkan kemungkinan eskalasi lebih lanjut.

Baca Juga: Sekjen PBB Soroti Peningkatan Kehadiran Militer AS di Teluk Persia

Situasi ini mencerminkan cara Teheran memandang konfrontasi tersebut, yakni sebagai bentuk perlawanan, bukan konsesi.

Trump memiliki kekuatan militer yang sangat besar sebagai alat tekanan. Di sisi lain, Teheran memegang kemampuan untuk menyeret kawasan ke dalam kekacauan apabila perang benar-benar meletus. Di antara dua kekuatan tersebut, jalur diplomasi berupaya mencari waktu dan ruang untuk mencegah eskalasi terbuka.

x|close