Fakta Mengerikan Pengemudi Ojol Jadi Korban Penganiayaan di Kembangan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 10 Feb 2026, 11:14
thumbnail-author
Naurah Faticha
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Penganiayaan. ANTARA/Dokumentasi pribadi. Ilustrasi - Penganiayaan. ANTARA/Dokumentasi pribadi. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Seorang pengemudi ojek online (ojol) bernama Hasan (26) menjadi korban penganiayaan oleh seorang pria yang diduga oknum anggota TNI di kawasan Meruya Utara, Kembangan, Jakarta Barat. Peristiwa tersebut terjadi saat Hasan sedang mengantarkan penumpang dan berupaya mencari alamat tujuan yang tidak sesuai dengan titik lokasi aplikasi.

Hasan menuturkan di Jakarta, Senin, 9 Februari 2026, kejadian bermula pada Rabu, 4 Februari 2026, ketika ia menjemput penumpang perempuan bernama Nur di Jalan Mawar dengan tujuan Jalan Haji Lebar, Srengseng, Kembangan, Jakarta Barat. Namun, penumpang tersebut tidak mengetahui arah jalan menuju rumah tujuan.

"Saya dari Jalan Mawar itu lagi on bid (mencari orderan masuk), dapat penumpang ibu-ibu sendirian, minta diantar ke Jalan Haji Lebar, rumah pelaku, tapi dia enggak tahu jalan," katanya.

Karena penumpang tidak mengetahui rute, Hasan mengikuti titik lokasi pada aplikasi. Setibanya di lokasi, penumpang menyampaikan bahwa rumahnya bukan berada di titik tersebut.

"Sampai di lokasi tujuan, penumpang saya mengatakan bahwa rumahnya bukan ini. Terus dia sering dipanggil ke sana, cuma dia enggak tahu jalan. Saya konfirmasi jalannya ke mana, dia enggak tahu juga," ucapnya.

Baca Juga: Polisi Benarkan Laporan Penganiayaan Pengemudi Ojol di Jakarta Barat

Penumpang kemudian menerima kiriman fitur berbagi lokasi dari pelaku, tetapi tidak dapat dibuka. Hasan lalu mencoba menelusuri titik lokasi lain yang mengarah ke Jalan Kecapi, Meruya Utara, dengan jarak sekitar dua kilometer dari lokasi awal.

"Pas saya coba buka, ternyata titiknya enggak jauh, sekitar dua kilo. Ya udah saya antar aja lah ke sana. Tapi belum nemu juga rumahnya yang mana," jelasnya.

Saat tiba di Jalan Kecapi, Hasan meminta penumpangnya menghubungi pelaku melalui telepon untuk memastikan alamat rumah. Namun, saat ponsel diserahkan kepadanya, Hasan justru mendapat makian.

"Saya bilang, 'Pak, saya di Jalan Kecapi nih, rumah Bapak ke mana lagi ya?," Hasan bertanya.

"Terus dia jawabannya malah kasar, marah-marah. 'Ngapain kamu di Jalan Kecapi? Situ kan udah saya share-loc!," sambungnya.

Hasan mengaku mencoba menjelaskan dengan tenang, tetapi pelaku semakin emosi.

"Saya bilang, 'Bapak ngapain marah-marah? Saya kan cuma nanya alamat'. Terus malah dia bilang, 'Monyet kamu ya! Sini kamu kalau berani!" ucapnya.

Baca Juga: Paspampres Tegaskan Anggotanya Tak Terlibat Penganiayaan Ojol di Kembangan

Meski sempat enggan melanjutkan perjalanan, Hasan tetap mengantar penumpang karena merasa kasihan.

"Tapi karena saya kasihan kan, ibu-ibu sendirian udah malam juga, enggak tau jalan lagi, ya udah saya anter aja ke sana, toh enggak jauh juga," kata dia.

Setibanya di rumah tujuan, anak pelaku sudah menunggu dengan sikap menantang dan menuding Hasan bersikap tidak sopan.

"Anaknya sudah berdiri di depan rumah dengan nada kayak nantangin gitu, bilang kalau saya enggak sopan ke bapaknya. Padahal, mah saya cuma nanya alamat, bapaknya dia yang ngomel-ngomel," tutur Hasan.

Cekcok mulut pun terjadi hingga anak pelaku menendang sepeda motor Hasan dan berujung perkelahian.

"Saya nggak terima kan, saya dorong, terus dia mukul saya, terus saya pukul juga. Pukul-pukulan di situ," ucapnya.

Baca Juga: Paspampres Ungkap Pelaku Penganiayaan Pengemudi Ojol di Jakbar Anggota Denma Mabes TNI

Tak lama berselang, pelaku yang diduga oknum anggota TNI keluar rumah membawa batang besi dan memukul kepala Hasan.

"Bapaknya ini, saya perkirakan usia 40 sampai 50 tahun ke atas lah. Dia datang bawa besi dan pukul kepala saya. Sekali pukul pakai besi, terus warga langsung udah di situ semua. Saya luka berdarah di dahi kiri, ngucur darahnya," kata Hasan.

Usai kejadian, Hasan menjalani visum dan melaporkan peristiwa tersebut ke Polsek Kembangan.

"Saya langsung lapor polisi. Nah, hari Sabtu, 7 Februari 2026, saya dipanggil lagi, terus minta nomor RT setempat," jelasnya.

Namun, Hasan mengaku mendapat penjelasan bahwa penanganan kasus tersebut terkendala karena status pelaku sebagai anggota militer.

Baca Juga: Kronologi Penganiayaan Driver Ojol yang Kepalanya Dihantam Besi oleh Oknum Perwira TNI

"Di situ kepolisian bilang, 'harus ke Pomdam' (Polisi Militer Kodam)," kata Hasan.

Merasa kasusnya tidak kunjung diproses, Hasan membagikan pengalamannya melalui media sosial Instagram hingga menjadi viral. Setelah itu, ia kembali dipanggil untuk pemeriksaan lanjutan.

"Nah setelah viral itu, tadi pagi sih saya dipanggil buat ke kantor lagi. Katanya sih pemeriksaan lebih lanjut bilangnya. Cuma mungkin habis dari Polsek saya langsung ke Pomdam," ucapnya.

Hasan berharap kasus penganiayaan yang menimpanya dapat diproses secara adil.

"Ya semoga ditindaklanjut lah. Jangan ada orang-orang yang punya jabatan begitu bisa seenaknya," tuturnya.

(Sumber: Antara)

x|close