Ngeri! 20 Ton Pestisida Cemari Sungai Cisadane hingga 22 Kilometer

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 12 Feb 2026, 09:06
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
BPBD Kota Tangerang bersama tim gabungan melakukan pemeriksaan kandungan air sungai cisadane dampak dari kebakaran pabrik kimia di Serpong. ANTARA/Irfan BPBD Kota Tangerang bersama tim gabungan melakukan pemeriksaan kandungan air sungai cisadane dampak dari kebakaran pabrik kimia di Serpong. ANTARA/Irfan (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Kebakaran hebat yang melanda gudang milik PT Biotek Saranatama di kawasan Pergudangan Taman Tekno BSD, Serpong, menjadi pemicu salah satu insiden pencemaran terbesar di aliran Sungai Cisadane.

Peristiwa yang terjadi pada Senin (9/2/2026) itu bukan hanya menghanguskan fasilitas penyimpanan bahan kimia, tetapi juga melepaskan kurang lebih 20 ton pestisida ke lingkungan sekitar melalui aliran air pemadaman.

Gudang yang menyimpan pestisida jenis cypermetrin dan profenofos itu terbakar keras hingga petugas pemadam kebakaran harus mendatangkan dua truk pasir untuk menahan penyebaran api. Proses pemadaman berlangsung sangat lama, sekitar tujuh jam, karena sumber kobaran berasal langsung dari bahan kimia yang mudah menyala.

Baca Juga: Prabowo Pertanyakan Situs Perjuangan, Menbud Cek Keberadaan Rumah Radio Bung Tomo

Setelah api dipastikan padam, barulah terlihat dampak lanjutan yang jauh lebih serius: aliran Sungai Jeletreng, anak Sungai Cisadane, berubah tercemar akibat campuran air pemadaman dan residu pestisida.

Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH pun turun tangan. Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menegaskan bahwa volume pestisida yang terlibat sangat besar dan langsung memicu pergerakan polutan ke badan sungai.

"Kurang lebih 20 ton pestisida terbakar, dan air sisa pemadaman yang bercampur residu kimia mengalir hingga mencemari sungai. Kondisi ini sangat berdampak serius terhadap ekosistem perairan dan masyarakat di sekitarnya," ujar Hanif dalam keterangan tertulis, Rabu (11/2).

Pencemaran yang berawal dari Sungai Jeletreng itu kemudian menyusuri aliran Cisadane hingga mencapai jarak sekitar 22,5 kilometer, mencakup wilayah Tangerang Selatan, Kota Tangerang, hingga Kabupaten Tangerang. Pada rentang itu, banyak biota akuatik ditemukan mati, meliputi ikan mas, baung, patin, nila, hingga sapu-sapu.

Sebagai respons cepat, KLH melakukan pengambilan sampel di beberapa titik hulu dan hilir Sungai Cisadane, serta mengumpulkan sepuluh sampel ikan mati untuk dianalisis di laboratorium. Pemeriksaan lanjutan terhadap air Sungai Jeletreng, air tanah, dan biota sungai lainnya juga disiapkan dengan melibatkan ahli toksikologi.

Baca Juga: Pabrik Cat di Jatake Tangerang Kebakaran Hebat

Hanif menyampaikan imbauan keras kepada masyarakat untuk sementara waktu tidak berinteraksi dengan air sungai.

"Kami akan mendalami kasus ini melalui serangkaian pengujian laboratorium dan kajian ilmiah. Untuk sementara waktu, kami mengimbau masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai agar tidak menggunakan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari karena berpotensi menyebabkan iritasi kulit dan mata, serta gangguan pernapasan jika uapnya terhirup," ujarnya.

Ia juga memastikan bahwa proses penyelidikan terhadap pengelolaan bahan berbahaya yang dilakukan perusahaan akan diperiksa secara menyeluruh.

"Pemerintah akan memastikan proses penegakan hukum berjalan secara transparan dan akuntabel, termasuk evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3) yang diterapkan oleh perusahaan," imbuhnya.

Insiden ini menjadi pengingat bahwa kecelakaan industri yang melibatkan bahan kimia dalam jumlah besar dapat menimbulkan dampak ekologis yang luas dalam waktu singkat. Dalam kasus PT Biotek Saranatama, 20 ton pestisida yang terbakar telah memicu rentetan kerusakan yang menjalar jauh melebihi lokasi kebakaran.

x|close