Kepala BRIN Prof Arif Satria: Penyimpanan Data di DNA Jadi Lompatan Baru Riset Indonesia

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 12 Feb 2026, 16:30
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Prof Arif Satria dan Nurdin Tampubolon Prof Arif Satria dan Nurdin Tampubolon (Ntv)

Ntvnews.id, Jakarta - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Dr. Arif Satria, SP, MSi mengungkapkan potensi besar teknologi penyimpanan data berbasis DNA sebagai bagian dari arah baru riset dan bio-revolution Indonesia.

Dalam forum Nature 2026 di Nusantara Ballroom NT Tower, Kamis (12/2/2026), Arif menegaskan bahwa penguasaan teknologi genomik tidak hanya penting untuk konservasi dan kesehatan, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan DNA sebagai media penyimpanan informasi berkapasitas sangat besar.

Menurutnya, DNA bukan sekadar materi genetik makhluk hidup, melainkan juga sistem penyimpanan data paling padat dan tahan lama yang pernah ada di alam. Dengan teknologi sintesis dan sekuensing modern, informasi digital dapat dikodekan ke dalam rangkaian DNA, disimpan dalam ukuran sangat kecil, dan bertahan ratusan hingga ribuan tahun dalam kondisi tertentu.

“Kalau kita bicara masa depan, data akan terus meledak. Kita butuh media penyimpanan yang jauh lebih efisien dan berkelanjutan. DNA menawarkan itu,” ujar Arif.

Baca Juga: Diaz Hendropriyono: Dekarbonisasi Satu-satunya Jalan, Jika Tidak Pulau-Pulau Kita Tenggelam

Ia menjelaskan, dunia riset global sudah mulai mengembangkan teknologi DNA data storage untuk mengatasi keterbatasan server konvensional yang boros energi dan membutuhkan ruang besar. Di tengah lonjakan kebutuhan pusat data (data center), pendekatan berbasis biomolekuler dinilai lebih ramah lingkungan.

Bagi Indonesia, penguasaan teknologi ini memiliki makna strategis. Sebagai negara dengan kekayaan biodiversitas tinggi, Indonesia memiliki modal besar dalam riset genomik, bioinformatika, dan bioteknologi sintetis. BRIN, kata Arif, mendorong penguatan infrastruktur riset genom serta pengembangan bank gen nasional sebagai fondasi menuju inovasi lanjutan, termasuk eksplorasi penyimpanan data berbasis DNA.

Ia menekankan pentingnya kedaulatan genetik dan data. Jangan sampai, menurutnya, sumber daya hayati Indonesia hanya dimanfaatkan sebagai objek riset tanpa nilai tambah di dalam negeri.

“Material genetik dan data adalah aset strategis bangsa. Kita harus menguasai teknologinya, bukan hanya menjadi penyedia bahan,” tegasnya.

Baca Juga: PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Raih Nusantara Sustainability Award 2026 untuk Ekonomi Sirkular & Pengelolaan Sampah

Pengembangan DNA sebagai media penyimpanan data juga dinilai sejalan dengan visi bioekonomi dan transformasi digital nasional. Integrasi antara bioteknologi dan teknologi informasi akan melahirkan ekosistem riset baru yang multidisipliner, mulai dari biologi molekuler, kimia, hingga kecerdasan buatan.

Arif menambahkan, bio-revolution tidak lagi terbatas pada pangan atau kesehatan, tetapi telah merambah ke sektor teknologi informasi. Ke depan, BRIN akan terus memperkuat kolaborasi riset untuk memastikan Indonesia tidak tertinggal dalam kompetisi teknologi berbasis sains hayati.

“DNA menyimpan informasi kehidupan selama jutaan tahun. Kini, kita belajar memanfaatkannya untuk menyimpan informasi peradaban,” pungkasnya.

x|close