Kemendukbangga Respons Isu Childfree Lewat Program Tamasya

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 25 Feb 2026, 18:00
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji (depan, kiri) dalam acara sinergi bersama UNFPA menuju Indonesia Emas 2045 di Jakarta, Rabu 25 Februari 2026. ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari. Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji (depan, kiri) dalam acara sinergi bersama UNFPA menuju Indonesia Emas 2045 di Jakarta, Rabu 25 Februari 2026. ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari. (Antara)

Ntvnews.id

, Jakarta - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN merespons meningkatnya fenomena generasi muda yang memilih tidak memiliki anak atau childfree melalui Program Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya).

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji menyampaikan bahwa meskipun angka kelahiran total (Total Fertility Rate/TFR) Indonesia saat ini berada pada angka ideal 2,1, isu childfree tetap perlu dicermati agar keseimbangan penduduk terjaga dan Indonesia tidak mengalami krisis fertilitas seperti di sejumlah negara maju.

Baca Juga: Kemendukbangga Ingatkan Pentingnya Rumah Aman Lindungi Anak dari Child Grooming

"Kita bicara tentang adanya ketakutan beberapa warga kita untuk mempunyai anak, sehingga muncul yang kita sebut dengan childfree. Tentu kami sebagai kementerian harus punya jalan keluar untuk memastikan supaya yang cemas-cemas itu tidak cemas, salah satunya adalah program-program yang berkenaan dengan Tamasya, atau Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) sebagai bukti negara hadir," katanya di Jakarta, Rabu, 25 Februari 2026.

Berdasarkan data Direktorat Bina Ketahanan Keluarga Balita dan Anak Kemendukbangga per 20 Februari 2026, tercatat sebanyak 3.730 unit Tamasya telah melayani keluarga di berbagai wilayah Indonesia.

Dalam upaya membangun generasi Indonesia yang lebih berkualitas, Wihaji menekankan pentingnya perencanaan kependudukan, bukan sekadar pengendalian penduduk.

"Hal-hal yang menjadi prioritas kita dalam pembangunan kependudukan yakni kesehatan reproduksi. Kita pilih lagi yang prioritas, di daerah mana TFR (masih tinggi) untuk diberikan kontrasepsi," paparnya.

Selain itu, penyusunan Peta Jalan Pembangunan Kependudukan (PJPK) juga dinilai penting guna memastikan pembangunan sumber daya manusia tidak hanya berfokus pada jumlah, tetapi juga kualitas.

Baca Juga: Peringati Hari Ibu 2025, Kemendukbangga/BKKBN Perkuat Sinergi Cegah Kematian Ibu dan Anak

Melalui edukasi kesehatan reproduksi, generasi muda diharapkan mampu menentukan pilihan secara sadar terkait perencanaan keluarga.

Di sisi lain, kepastian lapangan kerja, jaminan sosial dan ketenagakerjaan, serta layanan kesehatan ibu dan anak yang memadai menjadi faktor pendukung dalam meredakan kekhawatiran terhadap keputusan memiliki anak.

Wihaji sebelumnya menyebut terdapat tiga faktor utama yang mendorong sebagian kaum muda memilih childfree, yakni kecemasan psikologis, ekonomi, serta kondisi fisik dan kesehatan.

"Tentu, tiga kecemasan ini harus saya jawab. Melalui Tamasya, mereka yang takut ketika nanti punya anak, atau bagaimana mengurus anak tanpa harus berhenti kerja, saya siapkan tempat penitipan anak, yang barangkali tidak bisa mengasuh anak, kita siapkan tempat mengasuh anak," ucapnya.

(Sumber: Antara)

x|close