Ntvnews.id,
OFAC menyatakan akan menerapkan “kebijakan perizinan yang menguntungkan” terhadap permohonan izin tertentu yang meminta otorisasi untuk penjualan kembali minyak Venezuela ke Kuba.
Kebijakan tersebut ditujukan untuk transaksi yang mencakup ekspor untuk kepentingan komersial maupun kegiatan kemanusiaan, termasuk penggunaan di sektor swasta negara itu.
Baca Juga: Trump Buka Akses Perusahaan Minyak AS ke Venezuela
OFAC menegaskan bahwa kebijakan ini tidak berlaku untuk transaksi yang melibatkan atau memberi manfaat bagi orang atau entitas terkait militer Kuba, layanan intelijen, atau lembaga pemerintah lainnya.
Dengan demikian, hanya sektor privat dan kegiatan yang mendukung rakyat Kuba yang masuk dalam ketentuan perizinan tersebut.
Langkah ini diambil setelah AS menyatakan Kuba sebagai:
“ancaman yang tidak biasa dan luar biasa” terhadap keamanan nasional, serta menghentikan pasokan minyak Venezuela ke Kuba pasca operasi militer pada Januari yang secara paksa menculik Presiden Venezuela, Nicolás Maduro.
Baca Juga: Trump Ungkap AS Telah Terima 80 Juta Barel Minyak dari Venezuela
Setelah operasi tersebut, AS mengambil alih kendali atas ekspor minyak Venezuela.
Pada Kamis 29 Januari 2026, Presiden AS Donald Trump menandatangani perintah eksekutif yang mengancam akan memberlakukan tarif atas barang-barang yang diekspor ke AS dari negara-negara yang memasok minyak ke Kuba, sebagai bagian dari tekanan geopolitik di kawasan.
Perubahan kebijakan perizinan OFAC ini dianggap sebagai langkah untuk memastikan minyak asal Venezuela tetap bisa masuk ke sektor sipil di Kuba di bawah pengawasan, meskipun sanksi yang lebih luas tetap berlaku terhadap sektor pemerintah dan militer.
(Sumber: Antara)
Para pekerja berjalan melewati pesawat yang terparkir di Bandara Internasional Jose Marti di Havana, Kuba pada Sabtu 14 Februari 2026. ANTARA/Xinhua/Joaquín Hernandez. (Antara)