Mesir Desak Deeskalasi Untuk Cegah Kekacauan Total di Timur Tengah

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 3 Mar 2026, 14:00
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Menteri Luar Negeri (Menlu) Mesir Badr Abdelatty pada Senin 2 Maret 2026, menyerukan agar deeskalasi ketegangan regional segera diterapkan guna mencegah Timur Tengah terjerumus ke dalam Menteri Luar Negeri (Menlu) Mesir Badr Abdelatty pada Senin 2 Maret 2026, menyerukan agar deeskalasi ketegangan regional segera diterapkan guna mencegah Timur Tengah terjerumus ke dalam (Antara)

Ntvnews.id, Kairo - Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty pada Senin, 2 Maret 2026, mendesak penerapan deeskalasi segera guna mencegah kawasan Timur Tengah terperosok ke dalam “kekacauan total” di tengah meningkatnya ketegangan regional.

Seruan itu disampaikan Abdelatty dalam percakapan telepon terpisah dengan para menteri luar negeri dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, Oman, Bahrain, Yordania, dan Irak.

Menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri Mesir, pembahasan difokuskan pada perkembangan situasi yang dinilai cepat dan berbahaya, termasuk serangan-serangan Iran yang berlanjut terhadap sejumlah negara di kawasan.

Baca Juga: Buntut Perang Iran MUI Minta RI Keluar dari BoP, Ini Respons DPR

Abdelatty menegaskan solidaritas penuh Mesir terhadap negara-negara Arab serta mengecam “serangan yang tidak dapat diterima dan tidak beralasan” yang menyasar mereka.

Ia juga menyatakan dukungan penuh terhadap kedaulatan, keamanan, stabilitas, dan integritas teritorial negara-negara Arab, sembari menekankan bahwa Iran harus segera menghentikan serangan terhadap negara-negara Arab.

Ia mendesak seluruh pihak untuk “menahan diri semaksimal mungkin, memprioritaskan dialog, dan mengutamakan akal sehat serta solusi politik maupun diplomatik” sebagai jalan keluar dari krisis.

Secara terpisah, Menteri Luar Negeri Irak Fuad Hussein melakukan pembicaraan via telepon dengan Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri UEA Sheikh Abdullah bin Zayed Al Nahyan.

Baca Juga: Dubes Iran: Kami Tak Serang Arab, Musuh Kami AS dan Israel

Dalam komunikasi tersebut, Hussein menyerukan penerapan gencatan senjata dan deeskalasi segera demi melindungi warga sipil serta menjaga stabilitas kawasan.

Upaya diplomatik ini berlangsung setelah serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu, 28 Februari 2026, yang menargetkan Teheran dan sejumlah kota lain di Iran, menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei beserta beberapa anggota keluarga, komandan militer senior, dan warga sipil.

Iran kemudian membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone yang menyasar Israel serta pangkalan militer AS di berbagai wilayah Timur Tengah.

(Sumber: Antara)

x|close