Infografik: Meredam Gejolak Pasar Akibat Konflik Timur Tengah

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 4 Mar 2026, 17:05
thumbnail-author
Naurah Faticha
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Konflik di Timur Tengah memicu gejolak pada pasar global, berupa fluktuasi harga komoditas serta nilai tukar. Kondisi ini berisiko memengaruhi stabilitas ekonomi Indonesia sehingga pemerintah melakukan antisipasi. Konflik di Timur Tengah memicu gejolak pada pasar global, berupa fluktuasi harga komoditas serta nilai tukar. Kondisi ini berisiko memengaruhi stabilitas ekonomi Indonesia sehingga pemerintah melakukan antisipasi. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Konflik yang terjadi di Timur Tengah memicu gejolak pasar global, yang tercermin dari kenaikan harga komoditas dan fluktuasi nilai tukar rupiah. Harga emas misalnya, naik dari Rp3.045.000 per gram pada 27 Februari menjadi Rp3.122.000 per gram pada 3 Maret 2026, atau meningkat 2,53 persen. Sementara harga minyak mentah Brent melonjak 12,51 persen menjadi 80,06 dolar AS per barel, sedangkan WTI naik 9,84 persen menjadi 73,09 dolar AS per barel.

Fluktuasi ini juga memengaruhi nilai tukar rupiah yang melemah tipis terhadap dolar AS. Pada 27 Februari, kurs rupiah tercatat Rp16.779 per dolar AS, dan pada 3 Maret menjadi Rp16.870 per dolar AS, turun 0,54 persen. Kondisi ini berpotensi menimbulkan tekanan pada biaya impor energi, subsidi bahan bakar minyak, serta risiko pelebaran defisit APBN dan inflasi domestik.

Menanggapi kondisi tersebut, pemerintah menyiapkan langkah-langkah antisipatif. Strategi yang dilakukan antara lain melakukan diversifikasi sumber impor minyak, memperluas tujuan ekspor ke pasar yang relatif tidak terdampak konflik, serta menjaga cadangan energi dan pangan, khususnya menjelang periode Ramadhan-Lebaran.

Baca Juga: Menlu: Indonesia Hubungi AS dan Iran, Siap Jadi Mediator Konflik Timur Tengah

Pemerintah juga memastikan stok BBM Indonesia pada 3 Maret 2026 masih cukup untuk lebih dari 20 hari.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menekankan pentingnya kewaspadaan pemerintah terhadap dampak konflik.

“Sudah pasti yang terganggu adalah suplai minyak. Kita lihat berapa jauh pertempuran ini akan terus berlangsung,” ujarnya.

Langkah-langkah tersebut diharapkan mampu meredam dampak gejolak pasar global terhadap stabilitas ekonomi nasional, sekaligus memastikan ketahanan energi dan kebutuhan pokok masyarakat tetap terjaga.

Berikut Infografiknya: 

Konflik di Timur Tengah memicu gejolak pada pasar global, berupa fluktuasi harga komoditas serta nilai tukar. Kondisi ini berisiko memengaruhi stabilitas ekonomi Indonesia sehingga pemerintah melakukan antisipasi. <b>(Antara)</b> Konflik di Timur Tengah memicu gejolak pada pasar global, berupa fluktuasi harga komoditas serta nilai tukar. Kondisi ini berisiko memengaruhi stabilitas ekonomi Indonesia sehingga pemerintah melakukan antisipasi. (Antara)

Baca Juga: Airlangga Pastikan Gaji ke-13 ASN Cair Juni 2026

x|close