Politikus Inggris Tuding Israel Tutupi Kehancruan Tel Aviv, Sebut 1.000 Kematian Warga AS Dirahasiakan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 9 Mar 2026, 09:38
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Di Tel Aviv, Israel, Senin (16/6/2025), pasukan penyelamat dan keamanan Israel bekerja di lokasi serangan rudal Iran. Sejak Jumat, Iran telah melancarkan serangan rudal ke berbagai tujuan di Israel, yang mengakibatkan banyak korban dan kerusakan. Di Tel Aviv, Israel, Senin (16/6/2025), pasukan penyelamat dan keamanan Israel bekerja di lokasi serangan rudal Iran. Sejak Jumat, Iran telah melancarkan serangan rudal ke berbagai tujuan di Israel, yang mengakibatkan banyak korban dan kerusakan. ((Antara/Jamal Awad) )

Ntvnews.id, Jakarta - Pemimpin George Galloway melontarkan tudingan keras mengenai skala kerusakan sebenarnya dalam konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Politikus yang memimpin Workers Party of Britain sekaligus pendiri organisasi Viva Palestina itu menilai dunia tidak mendapatkan gambaran utuh tentang dampak perang karena adanya sensor informasi yang luas.

Dalam pernyataan yang disampaikan melalui program Moats, Galloway mengeklaim bahwa pemerintah Israel bersama sejumlah media Barat menutup-nutupi tingkat kerusakan yang sebenarnya terjadi di Tel Aviv. Ia menuduh publik internasional tidak diperlihatkan kondisi nyata di lapangan akibat pembatasan informasi yang ketat.

Menurut Galloway, otoritas Israel menerapkan aturan keras terhadap penyebaran dokumentasi kerusakan di kota tersebut. Ia menyatakan siapa pun yang menyebarkan foto atau video yang menunjukkan kehancuran di Tel Aviv terancam hukuman penjara hingga lima tahun.

Politikus Inggris itu juga menuding sejumlah media arus utama Barat seperti CNN, BBC, dan Sky News mengikuti pembatasan tersebut dengan tidak menyiarkan rekaman kondisi sebenarnya.

Baca Juga: Iran Luncurkan Gelombang Rudal ke Israel Usai Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi

Galloway bahkan menggambarkan bahwa kerusakan di Tel Aviv sudah berada pada tingkat yang sangat parah. Ia mengklaim kota itu kini terlihat seperti wilayah perang yang porak-poranda.

"Bagaimana saya tahu itu? Karena saya punya teman-teman di Tel Aviv, di Jalan Sheinkin, dekat Lapangan Dizengoff, dan merekalah yang memberi tahu saya dari mulut mereka sendiri bahwa Tel Aviv sekarang terlihat seperti Gaza," ungkap Galloway.

Ia menilai kehancuran tersebut terjadi setelah sistem pertahanan udara Israel di wilayah Tel Aviv tidak lagi berfungsi secara efektif. Kondisi itu, menurutnya, memungkinkan Iran melancarkan serangan menggunakan rudal balistik tanpa hambatan berarti.

Dalam satu malam saja, Galloway mengeklaim sekitar 50 rudal balistik Iran menghantam kota tersebut. Serangan itu disebutnya menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan kerusakan besar pada berbagai infrastruktur di Tel Aviv.

Selain menyoroti kondisi di Israel, Galloway juga mempertanyakan data resmi korban dari pihak Amerika Serikat. Ia menilai jumlah korban yang diumumkan Washington tidak mencerminkan skala kerusakan yang sebenarnya terjadi di berbagai fasilitas Amerika di luar negeri.

Baca Juga: TNI Jelaskan Tujuan Siaga Tingkat 1 yang Diperintahkan Panglima TNI

Pemerintah AS sebelumnya menyebut hanya empat warga negaranya yang tewas. Namun Galloway menilai angka tersebut tidak masuk akal jika dikaitkan dengan laporan mengenai kehancuran sejumlah fasilitas milik Amerika.

"Bagaimana mungkin semua pangkalan CIA, semua kedutaan besar Amerika, semua pangkalan asing Amerika Serikat hancur dengan hanya empat orang Amerika yang tewas? Saya berani bertaruh, jumlah orang Amerika yang tewas mendekati seribu orang dan mereka tidak bisa disembunyikan selamanya," tegasnya.

Di luar isu korban jiwa, Galloway juga menyinggung dampak ekonomi global dari eskalasi konflik tersebut. Ia mencatat pasar saham di banyak negara mengalami penurunan tajam yang memicu penghentian perdagangan otomatis atau circuit breaker.

Namun ia menilai ada kejanggalan karena pasar saham Israel justru dilaporkan menguat pada awal pekan ketika banyak bursa global berada dalam tekanan.

Sebagai penutup pernyataannya yang kontroversial, Galloway mengingatkan kemungkinan langkah ekstrem dari Teheran berupa blokade total di Teluk Persia. Ia menggambarkan skenario tersebut sebagai situasi di mana tidak ada lagi minyak yang diizinkan keluar dari kawasan itu, sesuatu yang ia sebut berpotensi memicu “apokalips” ekonomi global.

x|close