Senator AS Sebut Mojtaba Khamenei Bisa Bernasib Seperti Ayahnya

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 9 Mar 2026, 12:32
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei (Istimewa)

Ntvnews.id, Jakarta - Senator senior Amerika Serikat dari Partai Republik, Lindsey Graham, melontarkan kritik keras terhadap keputusan Iran yang menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi negara tersebut.

Graham menilai langkah tersebut tidak membawa perubahan yang diharapkan dalam kepemimpinan Iran dan bahkan memprediksi nasib Mojtaba akan berakhir seperti ayahnya, mendiang Ali Khamenei.

Dalam pernyataan yang disampaikan melalui media sosial X, senator dari negara bagian South Carolina itu menyampaikan keraguannya terhadap arah kepemimpinan baru Iran.

"Saya meyakini hanya masalah waktu sebelum dia mengalami nasib yang sama seperti ayahnya," kata Graham.

Ia juga menilai pemilihan Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi Iran tidak mencerminkan perubahan yang diharapkan oleh pihak luar terhadap negara tersebut.

Baca Juga: BGN: Program Makan Bergizi Gratis Hanya Penuhi Sepertiga Kebutuhan Gizi Harian

"Graham menyebut pilihan Iran untuk menunjuk putra Khamenei sebagai pengganti ayahnya "bukanlah perubahan yang kita inginkan"."

Selama ini Graham dikenal sebagai salah satu tokoh politik Amerika yang paling vokal mendorong pendekatan keras terhadap Iran. Ia telah lama melobi agar Amerika Serikat mempertimbangkan opsi serangan militer terhadap negara tersebut.

Sebuah laporan dari media Amerika Serikat, The Wall Street Journal, bahkan menyebut Graham pernah membantu memberi arahan kepada Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengenai cara melobi Presiden AS saat itu, Donald Trump, agar mengambil tindakan terhadap Iran.

Penunjukan Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi Iran diumumkan pada Minggu (8/3), sekitar sepekan setelah wafatnya Ali Khamenei. Keputusan tersebut diambil oleh Majelis Pakar Iran, lembaga yang terdiri dari 88 ulama senior dan memiliki kewenangan menentukan pemimpin tertinggi negara.

Baca Juga: Iran Sebut Rusia dan China Bisa Bantu Redakan Konflik

Mojtaba, seorang ulama berusia 56 tahun, dipilih sebagai penerus ayahnya. Keputusan itu dipandang menunjukkan bahwa kelompok garis keras masih memegang kendali kuat dalam struktur kekuasaan Iran.

Di Washington, Presiden AS Donald Trump belum memberikan tanggapan resmi secara terbuka atas penunjukan tersebut. Namun seorang jurnalis dari Fox News, Brian Kilmeade, mengatakan bahwa Trump menyampaikan secara pribadi kepadanya bahwa ia tidak senang dengan perkembangan itu.

"Saya tidak senang," kata Kilmeade mengutip ucapan Trump.

Dalam komentar sebelumnya, Trump juga sempat meremehkan pengaruh Mojtaba Khamenei, dengan menyebutnya sebagai "orang yang tidak berpengaruh".

Saat berbicara kepada ABC News pada Minggu (8/3), bahkan sebelum Iran mengumumkan secara resmi pemilihan Mojtaba, Trump menyatakan bahwa pemimpin tertinggi baru Iran harus mendapat penerimaan dari Amerika Serikat.

"Jika dia tidak mendapatkan persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama," tegasnya.

x|close