Trump Disebut Incar Kuba Usai Perang Iran, Desak Presiden Mundur

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 18 Mar 2026, 05:45
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arsip foto - Presiden AS Donald Trump. (ANTARA/Anadolu Ajansi/pri) Arsip foto - Presiden AS Donald Trump. (ANTARA/Anadolu Ajansi/pri) (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan berencana mengalihkan fokus ke Kuba setelah operasi militer AS dan Israel di Iran selesai.

Sejumlah sumber yang mengetahui persoalan tersebut menyebutkan kepada The New York Times bahwa pemerintahan Trump telah menyampaikan kepada Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel, agar mengundurkan diri jika ingin proses negosiasi berjalan lancar.

Dilansir dari Reuters, Rabu, 18 Maret 2026, saat ini, Washington dan Havana tengah menjalani pembicaraan terkait krisis energi dan ekonomi yang melanda ibu kota Havana. Kuba menghadapi tekanan berat setelah kebijakan AS terhadap Venezuela, termasuk penangkapan Presiden Nicolas Maduro.

Venezuela diketahui menjadi salah satu sumber utama pasokan dana asing bagi Kuba. Namun, kondisi negara tersebut kini memburuk setelah Trump melarang impor minyak Venezuela ke Kuba, yang berdampak pada krisis energi serius di pulau itu.

Baca Juga: Trump Keluhkan Minimnya Dukungan Sekutu AS untuk Misi Pengawalan di Selat Hormuz

Dalam pernyataan kepada wartawan di Gedung Putih, Trump secara terbuka menyatakan ambisinya terhadap Kuba.

"Saya yakin saya akan mendapat kehormatan untuk mengambil alih Kuba. Apakah saya akan membebaskannya atau mengambilnya, saya kira saya bisa melakukan apa saja yang saya mau. Mereka adalah negara yang sangat lemah saat ini," ucap Trump.

Setelah penangkapan Maduro, Trump juga memberi sinyal ingin menggulingkan Diaz-Canel, yang dipandang Washington sebagai pemimpin garis keras. Di bawah kepemimpinannya, Kuba menolak privatisasi sektor minyak sebagaimana diinginkan AS.

Arsip Foto - Donald Trump saat berbicara dalam Konferensi Aksi Politik Konservatif (CPAC) di National Harbor, Maryland, Amerika Serikat, Jumat (15/3/2013). ANTARA/Flickr/Gage Skidmore/am. <b>(Antara)</b> Arsip Foto - Donald Trump saat berbicara dalam Konferensi Aksi Politik Konservatif (CPAC) di National Harbor, Maryland, Amerika Serikat, Jumat (15/3/2013). ANTARA/Flickr/Gage Skidmore/am. (Antara)

Menurut salah satu sumber, sikap tersebut diambil karena Kuba enggan memberikan pengaruh besar kepada AS dalam urusan domestiknya.

Bagi Washington, pergantian kepemimpinan di Havana dinilai dapat membuka jalan bagi perubahan ekonomi secara struktural.

Baca Juga: Donald Trump Ancam Masa Depan NATO Jika Sekutu Tak Bantu Amankan Selat Hormuz

Sejumlah pihak juga menilai Kuba berpotensi menjadi target berikutnya setelah Iran, seiring pernyataan Trump yang menyebut langkah terhadap negara tersebut hanya tinggal menunggu waktu.

Saat ini, AS masih terlibat konflik dengan Iran. Serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, meski pemerintahan negara tersebut belum berhasil digulingkan.

x|close