Warga Jember-Bondowoso Rayakan Lebaran Lebih Awal di Ponpes Mahfilud Dluror

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 19 Mar 2026, 15:15
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Sebagian warga Jember dan Bondowoso melaksanakan shalat Id di Masjid Salafiyah Syafi’iyah dan kompleks Pondok Pesantren Mahfilud Dluror di Desa Suger Kidul, Kecamatan Jelbuk, Kamis (19/3/2026). ANTARA/Zumrotun Solichah Sebagian warga Jember dan Bondowoso melaksanakan shalat Id di Masjid Salafiyah Syafi’iyah dan kompleks Pondok Pesantren Mahfilud Dluror di Desa Suger Kidul, Kecamatan Jelbuk, Kamis (19/3/2026). ANTARA/Zumrotun Solichah (Antara)

Ntvnews.id, 

Jember, Jawa Timur - Sejumlah warga di wilayah Kabupaten Jember dan Bondowoso, Jawa Timur, yang tinggal di sekitar Pondok Pesantren Mahfilud Dluror melaksanakan perayaan Idul Fitri lebih awal dengan menggelar Shalat Id pada Kamis. Perbedaan waktu ini terjadi karena metode penentuan 1 Syawal yang digunakan berbeda dari pemerintah.

Ribuan jamaah memadati Masjid Salafiyah Syafi’iyah serta area kompleks Pondok Pesantren Mahfilud Dluror yang terletak di Desa Suger Kidul, Kecamatan Jelbuk, perbatasan Jember dan Bondowoso.

Mereka mengikuti Shalat Id dengan khusyuk sejak pagi hari.

"Metode penentuan 1 Syawal sudah diterapkan sejak dulu oleh kiai sepuh seperti itu," kata Kiai Hafid Malik yang menjadi Imam Shalat Id di Masjid Slafiyah Syafi'iyah.

Warga setempat diketahui telah memulai ibadah puasa lebih awal, yakni pada Selasa 17 Maret 2026.

Penetapan tersebut didasarkan pada Kitab Salaf Nushatul Majaalis wa Muntahobul Nafaais yang telah digunakan sejak tahun 1826.

Oleh karena itu, mereka tidak menggunakan metode hisab maupun rukyat sebagaimana yang diterapkan oleh pemerintah dan Muhammadiyah.

Baca Juga: Hilal 1 Syawal Terlihat, Afghanistan Rayakan Idul Fitri Kamis 19 Maret 2026

"Semua yang puasa baik semua dan yang tidak puasa kurang bagus. Mudah-mudahan puasa kita semua diterima Allah Subhanahu Wa Ta'ala (SWT)," tuturnya.

Masyarakat diimbau untuk tetap menjaga sikap saling menghormati terkait perbedaan dalam penentuan awal Ramadhan maupun 1 Syawal. Toleransi dinilai penting agar kerukunan antarumat tetap terjaga meskipun terdapat perbedaan keyakinan dalam penentuan hari besar keagamaan.

Salah seorang warga Bondowoso, Muzaki, mengaku bersama keluarganya berangkat sejak pukul 04.00 WIB agar dapat mengikuti Shalat Id di lokasi tersebut.

Ia menyebut latar belakang keluarganya sebagai alumni pesantren membuat mereka konsisten mengikuti penetapan yang dilakukan pihak pondok.

"Saya alumni pesantren dan ayah saya juga alumni pesantren, sehingga selalu mengikuti awal Ramadhan dan 1 Syawal sesuai yang ditetapkan pondok," katanya.

Baca Juga: Daftar Negara yang Tetapkan Idul Fitri pada Jumat 20 Maret 2026

Ia juga menjelaskan bahwa penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah telah diumumkan sejak awal Ramadhan, sehingga para jamaah sudah mengetahui jadwal pelaksanaan Shalat Id pada 19 Maret 2026.

Perbedaan penetapan hari raya ini bukan hal baru bagi warga sekitar, karena telah beberapa kali terjadi dan tetap disikapi dengan saling menghormati.

Pelaksanaan Shalat Id di Desa Suger Kidul berlangsung aman dengan pengawasan dari aparat TNI dan Polri yang telah bersiaga sejak pagi hari. Hal ini membuat masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan tenang dan penuh kekhusyukan.

(Sumber: Antara)

x|close