Ntvnews.id, Jakarta - Pemerintah Austria dan Belgia menegaskan tidak akan ambil bagian dalam potensi operasi militer untuk mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz, sebagaimana diserukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Hal tersebut disampaikan langsung oleh para pemimpin kedua negara pada Kamis.
"Austria tidak mempertimbangkan untuk intervensi di Selat Hormuz. Sejauh yang saya pahami, kami berbicara tentang permohonan kepada negara-negara NATO. Ini adalah masalah NATO dan jawabannya telah diberikan. Negara-negara Uni Eropa juga telah menjelaskan bahwa mereka tidak ingin terlibat dalam konflik ini, yang tidak mereka mulai," ujar Kanselir Austria Christian Stocker kepada wartawan menjelang KTT Uni Eropa di Brussels, sebagaimana dikutip dari AFP, Jumat, 20 Maret 2026.
Sementara itu, Perdana Menteri Belgia Bart De Wever menyatakan dalam wawancara di Brussels bahwa negaranya tidak akan terlibat dalam konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran dalam bentuk apa pun.
Baca Juga: Menlu Iran Kritik Macron soal Sikapnya Atas Serangan AS Terhadap Infrastruktur Energi
Ketegangan di kawasan meningkat setelah pada 28 Februari lalu Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke Iran, termasuk di ibu kota Teheran, yang menyebabkan kerusakan serta korban sipil. Sebagai balasan, Iran menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer milik Amerika di kawasan Timur Tengah.
Pada Sabtu, 14 Maret 2026, Trump meminta sejumlah negara seperti China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris untuk mengirim kapal perang ke Selat Hormuz demi menjaga keamanan jalur pelayaran. Ia juga memperingatkan sekutu di NATO bahwa aliansi tersebut menghadapi masa depan sangat buruk jika gagal mengamankan kawasan itu.
Di sisi lain, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas menyatakan bahwa negara-negara Uni Eropa saat ini belum siap untuk mengirim armada militer ke Selat Hormuz.
Arsip foto - Seorang anggota Marinir AS mengamati sebuah kapal penyerang cepat Iran dari USS John P. Murtha di Selat Hormuz dalam gambar yang dirilis oleh Angkatan Laut AS pada 18 Juli 2019. (ANTARA FOTO/HO-U.S. Navy/Donald Holbert/wsj/aa.) (Antara)