A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Invalid argument supplied for foreach()

Filename: libraries/General.php

Line Number: 87

Backtrace:

File: /www/ntvweb/application/libraries/General.php
Line: 87
Function: _error_handler

File: /www/ntvweb/application/controllers/Read.php
Line: 64
Function: popular

File: /www/ntvweb/index.php
Line: 326
Function: require_once

Koalisi 22 Negara Siap Amankan Selat Hormuz - Ntvnews.id

Koalisi 22 Negara Siap Amankan Selat Hormuz

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 23 Mar 2026, 10:26
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Peta Selat Hormuz (Wikipedia Commons) Peta Selat Hormuz (Wikipedia Commons) (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Sebanyak 22 negara yang dipimpin Uni Emirat Arab dan Bahrain, bersama sejumlah negara Barat, menyatakan kesiapan mereka untuk menjaga keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.

Langkah kolektif ini diambil sebagai respons atas pembatasan yang diberlakukan Iran terhadap kapal-kapal yang melintasi jalur strategis tersebut, yang merupakan salah satu rute distribusi energi paling penting di dunia.

Dilansir dari Yeni Safak, Senin, 23 Maret 2026, koalisi ini melibatkan berbagai negara seperti Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, Jepang, Kanada, Korea Selatan, hingga Australia dan sejumlah negara Eropa lainnya.

Dalam pernyataan bersama, negara-negara tersebut mengecam tindakan Iran yang dituduh menyerang kapal komersial tak bersenjata serta infrastruktur sipil, termasuk fasilitas minyak dan gas di kawasan Teluk.

Baca Juga: NATO Desak Selat Hormuz Segera Dibuka

Mereka juga menyampaikan kekhawatiran atas meningkatnya eskalasi konflik dan mendesak Iran untuk segera menghentikan berbagai ancaman, termasuk pemasangan ranjau laut serta serangan drone dan rudal.

Koalisi menegaskan bahwa kebebasan navigasi merupakan prinsip yang tidak dapat ditawar dalam hukum internasional, dengan merujuk pada Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut. Mereka memperingatkan bahwa gangguan terhadap jalur pelayaran global berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap perekonomian dunia, khususnya bagi negara-negara yang rentan.

Sebelumnya, Iran mengumumkan pembatasan pada 2 Maret dengan menyatakan kapal yang melintas tanpa koordinasi berisiko menjadi target. Kebijakan tersebut disebut sebagai respons atas serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel sejak 28 Februari.

Arsip foto - Seorang anggota Marinir AS mengamati sebuah kapal penyerang cepat Iran dari USS John P. Murtha di Selat Hormuz dalam gambar yang dirilis oleh Angkatan Laut AS pada 18 Juli 2019. (ANTARA FOTO/HO-U.S. Navy/Donald Holbert/wsj/aa.) <b>(Antara)</b> Arsip foto - Seorang anggota Marinir AS mengamati sebuah kapal penyerang cepat Iran dari USS John P. Murtha di Selat Hormuz dalam gambar yang dirilis oleh Angkatan Laut AS pada 18 Juli 2019. (ANTARA FOTO/HO-U.S. Navy/Donald Holbert/wsj/aa.) (Antara)

Sebelum krisis ini terjadi, sekitar 20 juta barel minyak per hari melintasi Selat Hormuz, menjadikannya jalur vital bagi pasar energi global. Ketegangan yang berlangsung saat ini telah memicu kenaikan biaya pengiriman dan premi asuransi.

Koalisi juga menyambut langkah Badan Energi Internasional yang mengoordinasikan pelepasan cadangan minyak strategis. Selain itu, mereka menyatakan kesiapan untuk mengambil langkah tambahan bersama negara-negara produsen guna menjaga stabilitas pasar energi.

Dalam pernyataannya, koalisi menegaskan bahwa keamanan maritim dan kelancaran perdagangan merupakan kepentingan bersama, serta mengajak seluruh negara untuk mematuhi hukum internasional dan menjaga stabilitas kawasan.

x|close