Ntvnews.id, Washington D.C - Maskapai asal Amerika Serikat, United Airlines, berencana mengurangi lebih banyak rute penerbangan yang dianggap tidak menguntungkan. Kebijakan ini diambil sebagai langkah antisipasi menghadapi lonjakan harga bahan bakar jet dalam jangka panjang akibat konflik Iran.
Dilansir dari Reuters, Selasa, 24 Maret 2026, CEO Scott Kirby dalam memo kepada karyawan pada Jumat menyebut perusahaan bersiap menghadapi kemungkinan harga minyak mencapai 175 dolar AS per barel dan bertahan di atas 100 dolar hingga akhir 2027.
Dalam kondisi tersebut, biaya bahan bakar tahunan United diperkirakan meningkat hingga 11 miliar dolar AS, lebih dari dua kali lipat keuntungan terbaik yang pernah diraih perusahaan.
Meski demikian, maskapai-maskapai di AS sejauh ini masih mampu menaikkan tarif tiket, didorong oleh tingginya permintaan perjalanan serta kapasitas penerbangan yang lebih terbatas.
Konflik di Iran telah memicu gejolak baru di sektor bahan bakar penerbangan. Harga bahan bakar jet hampir dua kali lipat sejak akhir Februari, sehingga meningkatkan biaya operasional industri sekaligus mengganggu pola penerbangan global akibat perubahan rute dan pembatasan wilayah udara.
Baca Juga: Cerita Mbak ART yang Anaknya Dapet MBG: Jujur, Ketolong Banget!
United mulai memangkas penerbangan dengan tingkat keuntungan rendah, termasuk jadwal di tengah pekan, Sabtu, serta penerbangan malam. Dalam memo internal, Kirby menyampaikan bahwa maskapai akan mengurangi sekitar tiga persen penerbangan di luar jam sibuk pada kuartal kedua dan ketiga, dengan fokus pada rute dan waktu dengan permintaan rendah.
Selain itu, kapasitas dari Bandara Chicago O’Hare juga akan dipangkas sekitar satu persen. Maskapai ini juga masih menangguhkan layanan ke Tel Aviv dan Dubai, sehingga total pengurangan kapasitas mencapai sekitar lima persen dari rencana awal tahun ini. Kirby memperkirakan jadwal penuh akan kembali normal pada musim gugur.
Untuk menekan dampak kenaikan biaya, maskapai juga menaikkan harga tiket. Strategi pengurangan kapasitas ini diharapkan dapat membantu menjaga kekuatan penetapan harga di industri.
Detik-detik Sayap Japan Airline Senggol Buntut Delta Airline di Bandara Seattle (Instagram)
Langkah serupa juga diungkapkan oleh Delta Air Lines yang menyatakan siap mengurangi kapasitas jika harga bahan bakar tetap tinggi.
Maskapai penerbangan AS dinilai lebih rentan terhadap lonjakan harga bahan bakar karena umumnya tidak melakukan lindung nilai, berbeda dengan sejumlah maskapai di Eropa dan Asia. Mereka lebih mengandalkan kenaikan tarif dan pengaturan kapasitas untuk menutupi biaya tambahan.
Baca Juga: Pesawat Tabrak Kendaraan di Bandara LaGuardia New York, Operasional Penerbangan Dihentikan
Kenaikan biaya bahan bakar juga semakin menekan maskapai berbiaya rendah, yang sebelumnya sudah terbebani oleh kenaikan biaya tenaga kerja. Meski begitu, para eksekutif industri masih optimistis terhadap daya beli pasar dan kekuatan tarif.
Di tengah pengurangan penerbangan jangka pendek, Kirby menegaskan bahwa United tidak akan menghentikan strategi ekspansi. Perusahaan tetap akan menerima sekitar 120 pesawat baru tahun ini, termasuk 20 unit Boeing 787, serta tambahan 130 pesawat hingga April 2028.
United juga memastikan tidak akan melakukan pemutusan hubungan kerja maupun menunda investasi jangka panjangnya.
United Airlines (Honeywell)