Ntvnews.id, Moskow - Pemerintah Rusia secara resmi menyerukan penyelesaian melalui jalur politik dan diplomatik untuk meredakan eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Dilansir dari Sputnik, Rabu, 25 Maret 2026, seruan tersebut muncul di tengah klaim mengejutkan dari Presiden AS, Donald Trump, yang menyatakan bahwa Washington dan Teheran telah memulai pembicaraan.
Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mendesak penghentian segera permusuhan. Moskow menekankan pentingnya solusi yang memperhatikan kepentingan sah semua pihak, khususnya Iran.
"Situasi ini harus segera beralih ke penyelesaian politik dan diplomatik. Ini adalah satu-satunya hal yang secara efektif dapat meredakan ketegangan yang kini berkembang di kawasan tersebut," ujar Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, dikutip dari Channel News Asia, Rabu, 25 Maret 2026.
Baca Juga: Rusia Rujuk Perempuan yang Enggan Punya Anak ke Psikolog demi Tekan Krisis Demografi
Di saat Rusia mendorong jalur diplomasi, Trump mengklaim bahwa kedua pihak telah melakukan “percakapan yang sangat baik dan produktif” dalam dua hari terakhir terkait upaya penyelesaian total konflik bersenjata tersebut.
Ia juga mengaku telah memerintahkan penundaan rencana serangan terhadap infrastruktur energi Iran, setelah sebelumnya mengeluarkan ultimatum agar Teheran membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital yang lumpuh sejak dimulainya serangan AS-Israel pada 28 Februari.
Namun, klaim tersebut dibantah oleh pihak Iran. Media lokal yang mengutip sumber di Kementerian Luar Negeri menyatakan tidak ada negosiasi dengan Washington, serta menilai pernyataan Trump sebagai upaya untuk menekan harga energi global yang tengah melonjak.
Ilustrasi - Kapal tanker melintas di Selat Hormuz, Iran. (ANTARA/Anadolu/py.) (Antara)
Selain menyerukan perdamaian, Rusia juga mengungkapkan kekhawatiran serius terkait ancaman terhadap fasilitas nuklir Iran. Moskow, yang turut berperan dalam pembangunan pembangkit listrik nuklir Bushehr, memperingatkan bahwa serangan terhadap fasilitas tersebut dapat menimbulkan dampak yang tidak dapat diperbaiki.
"Kami menganggap serangan terhadap fasilitas nuklir berpotensi sangat berbahaya. Ini menimbulkan ancaman keamanan yang sangat serius jika tren ini terus berlanjut," tegas Peskov.
Sebagai salah satu sekutu utama Iran, Rusia sejauh ini mengecam serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel. Namun, Moskow belum menunjukkan dukungan militer secara terbuka dan memilih untuk tetap mengedepankan pendekatan diplomatik guna mencegah konflik berkembang menjadi perang besar di kawasan Timur Tengah.
Kremlin (( (Antara (Xinhua) ))