99 Persen Pengungsi Bencana Sumatra Sudah Tinggalkan Tenda Pengungsian, Kini Tinggal di Tempat Lebih Layak

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 26 Mar 2026, 08:09
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian. ANTARA/HO-Kemendagri Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian. ANTARA/HO-Kemendagri (Antara)

Ntvnews.id , Jakarta -  Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengatakan 99 persen pengungsi bencana di Sumatera (Aceh, Sumut, Sumbar) sudah pindah dari tenda pengungsian dan kini tinggal di perumahan sementara (huntara) yang dibangun pemerintah.

Tito, yang juga menjabat sebagai Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, mengatakan jumlah pengungsi yang telah pindah ke Huntara dihitung berdasarkan data terbaru dibandingkan dengan akhir tahun 2025.

“Bagaimana kita menghitungnya? Ya, hitung saja 171 orang saat ini dibagi 2,1 juta pada data 2 Desember saat masih mengungsi. Itu kurang lebih 0,0008 persen, sehingga bisa dikatakan 99,96 persen sudah tidak ada lagi di tenda,” ujar Tito dalam konferensi pers, Rabu 25 Maret 2026.

Ia menegaskan pemerintah tidak pernah menyampaikan bahwa 100 persen warga telah meninggalkan tenda pengungsian dan pindah ke Huntara.

Baca Juga:  Kemensos Salurkan Lebih dari Rp700 Miliar Bansos Bencana di Sumatera

Sebab, masih ada di bawah 1 persen yang bertahan karena beberapa faktor.

“Makanya ada kata-kata hampir atau mendekati 100 persen. Kita tidak mengklaim 100 persen,” imbuhnya.

Tito menjelaskan sebagian pengungsi yang masih berada di tenda disebabkan sulitnya akses, terutama karena lokasinya berada di pedalaman.

Sebagian lainnya tetap bertahan karena tidak ingin pindah ke hunter.

"Masih ada 26 orang karena tingkat kesulitan pembukaan jalan dari pedalaman. Selain itu, ada 17 orang yang tidak ingin tinggal di Huntara dan akhirnya dibangunkan langsung Huntap (hunian tetap). Ini solusinya," jelasnya.

Ia mencontohkan, di wilayah Aceh Tamiang masih terdapat 26 kepala keluarga (KK) atau 96 jiwa yang berada di tenda pengungsian.

Penyebabnya adalah medan yang sulit dijangkau, sehingga solusinya dibangun perumahan tetap.

Tim dari BNPB, solusinya sudah ada. Ini mudah-mudahan bisa menjelaskan dan menyelesaikan masalah tersebut. Artinya, solusinya sudah tersedia, terang Tito.

Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, menjelaskan bahwa dimulainya pembangunan perumahan tetap sebelum masa transisi darurat menuju pemulihan yang diharapkan berakhir pada 30 Maret 2026.

Baca Juga:  Danantara Rampungkan 1.398 Unit Huntara untuk Korban Bencana di Sumatera

Padahal, seharusnya pembangunan dimulai pada fase rehabilitasi, yakni April 2026.

Menurutnya, hal ini dilakukan karena kebutuhan masyarakat yang mendesak, terutama yang berada di wilayah pedalaman, sehingga pembangunan sudah dimulai sejak masa transisi.

“Masyarakat sudah sangat ingin segera membangun perumahan tetap. Oleh karena itu, meskipun masih dalam tahap transisi dan belum masuk rehabilitasi dan rekonstruksi, kami sudah mulai membangunkan perumahan tetap,” tegasnya

x|close