Trump Klaim Iran Ajukan Gencatan Senjata, Teheran Bantah

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 2 Apr 2026, 06:35
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Bendera negara Iran dan Amerika Serikat. ANTARA/Anadolu Ajansi/pri. Ilustrasi - Bendera negara Iran dan Amerika Serikat. ANTARA/Anadolu Ajansi/pri. (Antara)

Ntvnews.id, Istanbul - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Rabu, 1 April 2026, mengklaim bahwa kepemimpinan baru Iran telah mengajukan permintaan gencatan senjata kepada Washington. Namun, ia menegaskan bahwa Amerika Serikat hanya akan mempertimbangkan hal tersebut jika Selat Hormuz kembali dibuka.

"Presiden rezim baru Iran, yang tidak seradikal dan lebih cerdas dari pendahulunya, baru saja meminta gencatan senjata dengan Amerika Serikat," kata Trump melalui platform Truth Social.

Baca Juga: Dubes Iran Sambangi Jokowi di Solo, Bahas Konflik Timur Tengah hingga Sampaikan Solidaritas

Trump menambahkan bahwa Washington akan mempertimbangkan permintaan tersebut apabila Selat Hormuz dalam kondisi "terbuka, bebas, dan bersih".

Ia juga menyampaikan bahwa Amerika Serikat akan terus melancarkan serangan hingga target tersebut tercapai.

Washington hanya akan mempertimbangkan permintaan itu ketika Selat Hormuz "terbuka, bebas, dan bersih", ucap Trump, seraya mengatakan bahwa AS akan terus membombardir Iran hingga "kembali ke zaman batu" sebelum hal tersebut tercapai.

Pernyataan tersebut langsung dibantah oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeli Baqaei.

Ia menegaskan bahwa klaim mengenai permintaan gencatan senjata tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Sementara itu, laporan media Axios yang mengutip tiga pejabat Amerika Serikat menyebutkan bahwa proses perundingan tengah berlangsung untuk mengupayakan gencatan senjata dengan imbalan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Namun, para pejabat tersebut tidak merinci apakah komunikasi dilakukan secara langsung antara kedua negara atau melalui pihak ketiga seperti Pakistan.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sebelumnya menyatakan bahwa komunikasi yang terjadi dengan Amerika Serikat bukanlah perundingan formal, melainkan hanya pertukaran pesan secara terbatas, baik secara langsung maupun melalui perantara.

Trump sendiri beberapa kali menyebut bahwa kepemimpinan baru Iran lebih rasional dibandingkan sebelumnya.

Baca Juga: Dubes Iran Temui Jokowi di Solo, Bahas Situasi Timur Tengah

Dalam wawancara dengan NBC News pada awal pekan, ia bahkan menyatakan keyakinannya bahwa konflik di Iran akan segera berakhir dan mengklaim bahwa Amerika Serikat telah mencapai "perubahan rezim total".

Ia juga mengungkapkan bahwa Washington tengah menjalin komunikasi dengan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf.

Laporan Axios kembali menegaskan bahwa upaya diplomasi masih berlangsung, dengan fokus pada kemungkinan gencatan senjata sebagai imbalan pembukaan jalur strategis Selat Hormuz.

(Sumber: Antara)

x|close