Ntvnews.id, Washington D.C - Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat Jenderal Dan Caine menegaskan bahwa militer AS tetap berada dalam kondisi siap tempur meskipun gencatan senjata dengan Iran telah diberlakukan. Ia menyebut kesepakatan tersebut bukanlah akhir dari konflik, melainkan hanya jeda sementara.
"Mari kita perjelas. Gencatan senjata adalah jeda, dan pasukan gabungan tetap siap jika diperintahkan atau diminta untuk melanjutkan operasi tempur dengan kecepatan dan ketepatan yang sama seperti yang telah kita tunjukkan selama 38 hari terakhir. Dan kami berharap itu tidak terjadi," katanya dalam konferensi pers di Pentagon seperti dilansir dari CNN International, Kamis, 9 April 2026.
Dalam kesempatan itu, Caine juga menyampaikan penghormatan kepada anggota militer AS yang gugur selama operasi berlangsung.
"Saya ingin memulai pagi ini dengan menghormati 13 anggota pasukan gabungan Amerika kita yang gugur dalam tugas sejauh ini selama operasi ini, pengorbanan mereka dan keluarga mereka sangat penting bagi kami, dan kami bersyukur," katanya.
Baca Juga: Hashim Soroti Komitmen Prabowo Jaga Persatuan, Semua Partai Dirangkul
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyebut konflik dengan Iran sebagai “kemenangan bersejarah dan luar biasa”. Meski demikian, ia menegaskan bahwa pasukan AS tetap berada dalam posisi siaga penuh.
"Kami akan memastikan Iran mematuhi gencatan senjata ini dan kemudian pada akhirnya datang ke meja perundingan dan membuat kesepakatan. Jadi kami akan tetap di tempat, tetap siap, tetap waspada; seperti yang disampaikan ketua, pasukan kami siap untuk bertahan, siap untuk menyerang, siap untuk memulai kembali kapan saja dengan paket target apa pun yang diperlukan untuk memastikan Iran mematuhinya," katanya.
Hegseth juga mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyiapkan sejumlah target strategis di Iran, termasuk infrastruktur penting seperti jembatan dan pembangkit listrik, apabila kesepakatan gencatan senjata tidak tercapai.
Ilustrasi - Kapal tanker minyak Inggris (Antara)
Menanggapi pertanyaan soal ancaman Presiden Donald Trump terkait potensi kehancuran besar jika kesepakatan gagal, Hegseth menyatakan kesiapan militer AS untuk bertindak.
"Kami telah menetapkan target, siap dan siaga, berupa infrastruktur, jembatan, pembangkit listrik."
"Mereka tahu persis seberapa besar kemampuan kami," kata Hegseth tentang Iran.
Ia menambahkan bahwa tekanan dan peringatan keras dari Trump menjadi faktor yang mendorong Iran untuk bersedia berunding hingga akhirnya tercapai kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan.
"(Trump) pada akhirnya berkata, 'Kami dapat mengambil semuanya dari Anda. Kemampuan Anda untuk mengekspor energi akan diambil dan militer Amerika Serikat memiliki kemampuan untuk menyerang hal-hal tersebut tanpa hukuman.' Ancaman semacam itu yang membawa mereka ke titik di mana mereka secara efektif berkata, 'Oke, kami ingin membuat kesepakatan ini,'" kata Hegseth kepada wartawan.
Ilustrasi - pembicaraan nuklir Iran dan Amerika Serikat. ANTARA/Anadolu/py (Antara)