Ntvnews.id, Istanbul - Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengecam keras serangan yang dilakukan Israel di berbagai wilayah Lebanon, seraya memperingatkan meningkatnya jumlah korban sipil serta ancaman terhadap upaya gencatan senjata di kawasan.
Dalam pernyataan yang disiarkan pada Rabu, 8 April 2026, Guterres menyebut serangan yang terjadi pada hari tersebut telah menyebabkan ratusan warga sipil tewas dan terluka, termasuk anak-anak, serta menimbulkan kerusakan besar pada infrastruktur sipil.
Ia mengungkapkan keprihatinan mendalam atas terus bertambahnya korban sipil dan mengecam keras jatuhnya korban jiwa akibat serangan tersebut.
Selain itu, Guterres juga menyampaikan belasungkawa kepada pemerintah dan masyarakat Lebanon, sekaligus berharap para korban luka dapat segera pulih.
Baca Juga: Prabowo Bertemu Sekjen PBB António Guterres, Bahas Perdamaian Palestina dan Peran di Multilateral
“Dengan pengumuman gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat, aktivitas militer yang sedang berlangsung di Lebanon menimbulkan risiko serius terhadap gencatan senjata tersebut dan upaya menuju perdamaian yang langgeng serta menyeluruh di kawasan,”demikian pernyataan tersebut.
“Sekretaris Jenderal kembali menyerukan kepada semua pihak untuk segera menghentikan permusuhan,” tulis pernyataan tersebut.
Menegaskan pentingnya kepatuhan terhadap hukum internasional, termasuk hukum humaniter internasional, Guterres menekankan bahwa warga sipil dan infrastruktur sipil harus senantiasa dilindungi, serta serangan yang menyasar keduanya “tidak dapat diterima.”
Baca Juga: Antonio Conte Terbuka Kembali Tangani Timnas Italia Usai Gagal ke Piala Dunia 2026
Ia juga menegaskan bahwa konflik tersebut tidak memiliki solusi militer, sehingga seluruh pihak didorong untuk menempuh jalur diplomasi dan kembali berkomitmen pada pelaksanaan penuh Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701.
Sementara itu, Iran dan Amerika Serikat telah mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan pada Selasa, 7 April 2026, sebagai langkah awal menuju kesepakatan akhir guna mengakhiri serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari 2026, yang telah menimbulkan banyak korban.
Pengumuman tersebut disampaikan kurang dari dua jam sebelum batas waktu yang berulang kali diperpanjang oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang mendesak Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menerima kesepakatan atau menghadapi “kehancuran seluruh peradaban.”
(Sumber: Antara)
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres. (ANTARA/Anadolu/py/am.) (Antara)