Ntvnews.id, Brussel - Eropa menghadapi ancaman kehabisan bahan bakar jet dalam beberapa pekan ke depan apabila gangguan pasokan minyak akibat konflik Iran terus berlanjut. Peringatan tersebut disampaikan oleh pimpinan International Energy Agency (IEA).
Dalam wawancara dengan Associated Press pada Kamis, Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol menyoroti dampak global dari situasi yang ia sebut sebagai “krisis energi terbesar yang pernah kita hadapi,” yang dipicu oleh terganggunya aliran minyak, gas, serta pasokan vital lainnya melalui Selat Hormuz.
Ketegangan meningkat setelah operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel mendorong Iran menutup jalur strategis tersebut bagi “kapal musuh”. Penutupan ini berdampak besar karena sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut, sehingga memicu gangguan rantai distribusi global.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengumumkan blokade Selat Hormuz pada Minggu lalu setelah perundingan dengan Teheran gagal. Langkah ini membuat banyak kapal tanker berbalik arah dan menyebabkan harga minyak kembali mendekati USD100 per barel.
Baca Juga: Maskapai Nigeria Bakal Hentikan Penerbangan Gara-gara Harga Avtur Melonjak
Akibatnya, kapal tanker yang mengangkut bahan bakar kesulitan mencapai pelabuhan di Eropa, sementara jalur alternatif dinilai masih sangat terbatas. Birol memperkirakan cadangan bahan bakar jet di kawasan tersebut hanya cukup untuk "sekitar enam minggu", dan jika Selat Hormuz tidak segera dibuka, "kita akan segera mendengar kabar" tentang pembatalan penerbangan karena kekurangan pasokan.
Ia menggambarkan kondisi ini sebagai "situasi genting," serta memperingatkan bahwa semakin lama gangguan berlangsung, dampaknya akan semakin luas terhadap pertumbuhan ekonomi dan inflasi global. Dampak tersebut, menurutnya, akan terasa melalui "harga bensin yang lebih tinggi, harga gas yang lebih tinggi, harga listrik yang tinggi," katanya.
Wilayah Eropa Barat dinilai paling terdampak oleh krisis ini karena ketergantungan tinggi pada pasokan minyak Timur Tengah, terutama setelah pengurangan impor dari Rusia akibat sanksi. Sejumlah laporan menyebutkan gangguan sudah mulai terasa, termasuk pembatalan penerbangan di Bandara Heathrow London dan pengurangan jadwal oleh maskapai seperti SAS.
Avtur Pertamina Dukung Pemberangkatan 221 Ribu Jamaah Haji Indonesia (Pertamina)
Selain itu, maskapai regional Inggris seperti Skybus dan Aurigny juga mengurangi operasional, sementara Air France menaikkan tarif penerbangan jarak jauh. Kenaikan harga bahan bakar jet dilaporkan mencapai sekitar 120% secara tahunan. Bahkan, beberapa negara Uni Eropa disebut hanya memiliki cadangan bahan bakar untuk delapan hingga sepuluh hari.
Di tengah krisis tersebut, Rusia mulai menunjukkan kesiapan untuk menutup kekurangan pasokan minyak global. Sejumlah negara pun mulai menjalin kerja sama baru dengan Moskow, termasuk Indonesia yang telah mengamankan kesepakatan impor minyak mentah dan gas petroleum cair.
Langkah serupa juga dilakukan Filipina yang menerima pengiriman minyak Rusia pertamanya dalam lima tahun setelah menetapkan status darurat energi. Sementara itu, Vietnam dan Thailand turut menjajaki atau memperkuat kerja sama energi dengan Rusia, menegaskan peran negara tersebut sebagai salah satu pemasok utama di tengah krisis yang sedang berlangsung.
Ilustrasi - Petugas melakukan pengisian bahan bakar avtur ke pesawat Boeing 747-400 dengan nomor penerbangan SV 5177 milik maskapai penerbangan Saudia di Bandara Sultan Mahmud Baddarudin (SMB) II Palembang, Sumatera Selatan, Ahad (12/5/2024) (ANTARA (Nova Wahyudi/am))