Tangis Haru Sukinem: Berkat MBG, Omzet Pabrik Tahu Miliknya Naik Dua Kali Lipat

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 18 Apr 2026, 21:25
thumbnail-author
Adiantoro
Penulis & Editor
Bagikan
Usaha tahu milik Sukinem bernama "Ngudi Rejeki". (Foto: Dok/Istimewa/Bakom RI) Usaha tahu milik Sukinem bernama "Ngudi Rejeki". (Foto: Dok/Istimewa/Bakom RI)

Ntvnews.id, Karanganyar - Di sebuah Desa Sumberejo, Kecamatan Kerjo, Kabupaten Karanganyar, aroma kedelai yang direbus menguat sejak pagi buta.

Di sanalah Sukinem (67) menjalani hari-harinya di antara tungku, cetakan tahu, dan harapan yang ia rajut sejak puluhan tahun silam.

Usaha tahu miliknya yang diberi nama "Ngudi Rejeki" bukanlah usaha instan yang tumbuh dalam semalam. Perjalanan itu dimulai dari langkah-langkah kecil yang sederhana.

Tahun 1997, Sukinem hanya membantu saudaranya, mengangkut tahu dari satu ember ke ember lain, membawanya ke pasar. Tak ada bayangan besar kala itu, hanya keinginan untuk bertahan hidup.

"Awalnya bawa satu ember-satu ember ke pasar," kenangnya pelan, ditulis Sabtu (18/4/2026).

Dari pengalaman itulah, keyakinannya tumbuh. Hingga akhirnya pada tahun 2003, dia memberanikan diri membuka usaha sendiri. Dengan peralatan sederhana dan tenaga terbatas, Sukinem mulai memproduksi tahu di rumahnya.

Kini, dapur produksinya menghasilkan beragam jenis tahu, mulai dari tahu putih, tahu goreng asin, tahu bulat, tahu bakso, hingga tahu sayur. Namun di antara semuanya, tahu pong dan tahu putih tetap menjadi primadona yang paling diminati.

Perjalanan usaha Sukinem tidak selalu mulus. Ada masa ketika penghasilannya hanya cukup untuk bertahan. Sebelum adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG), omzet hariannya berkisar Rp4 juta.

Jumlah yang bagi sebagian orang mungkin terlihat besar, tetapi bagi usaha produksi kecil seperti miliknya, itu adalah batas tipis antara cukup dan kekurangan.

Usaha tahu milik Sukinem bernama "Ngudi Rejeki". (Foto: Dok/Istimewa/Bakom RI) Usaha tahu milik Sukinem bernama "Ngudi Rejeki". (Foto: Dok/Istimewa/Bakom RI)

Perubahan besar datang ketika dia mulai memasok kebutuhan ke dapur MBG. Kini, dalam sekali pengiriman, Sukinem bisa menyuplai antara 7.000 hingga 9.000 biji tahu per hari. Produksinya pun meningkat drastis, dari sekitar 2,5 kuintal per hari menjadi hampir 4 kuintal.

Omzetnya ikut melonjak. Dari Rp4 juta, kini mendekati Rp8 juta per hari. "Lumayan lah, untuk orang produksi sangat kecil ini, sangat tertolong," ujarnya dengan nada syukur.

Tak hanya satu, Sukinem kini memasok ke beberapa dapur sekaligus, tiga di Sragen dan empat di Karanganyar. Pesanan pun relatif stabil, didominasi oleh tahu kempong dan tahu sayur yang bisa diolah menjadi berbagai menu.

Di balik angka-angka itu, ada kerja keras yang tak terlihat. Ada tangan renta yang tetap sigap mengolah kedelai, ada semangat yang tak padam meski usia tak lagi muda.

Ketika ditanya tentang harapannya, Sukinem tak banyak berkata. Namun matanya berbicara lebih dari kata-kata.

"Terimakasih Pak Prabowo, saya sudah dibantu, usaha saya bisa lancar," ucapnya terbata.

Air matanya jatuh perlahan. Dia mengusapnya, tetapi tak mampu menyembunyikan rasa haru yang begitu dalam.

Di dapur kecil itu, Sukinem membuktikan ketekunan bisa mengubah nasib. Bahkan dari ember-ember sederhana yang dulu dia angkut ke pasar, kini lahir ribuan tahu yang menghidupi lebih dari sekadar dirinya sendiri.

Dan di antara asap tungku yang terus mengepul, harapan Sukinem itu masih terus menyala.

x|close