Dukung Prodi Tak Relevan Dihapus, DPR: Tekan Jumlah Pengangguran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 29 Apr 2026, 10:17
thumbnail-author
Moh. Rizky
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi Pengangguran Ilustrasi Pengangguran (Istimewa)

Ntvnews.id, Jakarta - Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI berharap agar lulusan perguruan tinggi mampu penuhi kebutuhan dunia kerja. Hal ini disampaikan Anggota Komisi X DPR RI Lestari Moerdijat, menyikapi rencana penghapusan program studi (prodi) perguruan tinggi yang dinilai tak relevan atau lulusannya banyak tidak terserap dunia kerja. Rencana itu dilontarkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Lestari menekankan ketidaksesuaian antara kebutuhan pasar kerja dan kualitas pencari kerja berpendidikan tinggi, harus segera diatasi dengan langkah-langkah yang terukur dan berkelanjutan.

Hal ini, menurutnya, sebagai bagian upaya mengakselerasi proses pembangunan.

"Upaya untuk mengakhiri ketidaksesuaian antara kebutuhan pasar kerja dan kualitas lulusan perguruan tinggi tidak bisa ditunda lagi, di tengah perubahan yang terjadi di sejumlah sektor. Langkah segera untuk mengantisipasi perubahan tersebut diharapkan mampu menekan angka pengangguran saat ini," ujar Lestari, dikutip Rabu, 29 April 2026.

Baca Juga: Libatkan Hampir 1.000 Pekerja, Proyek Sekolah Rakyat Kulon Progo Gerakkan Ekonomi Warga

Diketahui, Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Badri Munir Sukoco, mengungkapkan bahwa pihaknya berencana mengkaji ulang dan menyesuaikan program studi di perguruan tinggi dengan kebutuhan industri.

Data Kementerian Ketenagakerjaan merujuk Badan Pusat Statistik (BPS), mencatat jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,28 juta orang per Februari 2025. Ironisnya, sebanyak 1,01 juta orang di antaranya ialah lulusan perguruan tinggi.

Lestari menilai, data BPS itu menjadi cerminan bahwa ada jurang antara kompetensi lulusan perguruan tinggi dengan apa yang dibutuhkan oleh industri saat ini.

Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara kampus, pemerintah, dan dunia usaha untuk menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan pasar harus benar-benar terwujud.

Lestari berpendapat bahwa perkembangan teknologi global yang begitu cepat turut mempengaruhi kebutuhan dunia usaha.

Atas itu, ia meminta agar semua pihak segera bergerak secara konsisten dan berkesinambungan untuk mengantisipasi perubahan yang terjadi.

"Dibutuhkan dukungan semua pihak terkait dalam membangun sistem pendidikan yang mampu melahirkan lulusan perguruan tinggi yang berkualitas dan memenuhi kebutuhan dunia usaha," tandas Lestari.

x|close