Purbaya Bantah Melemahnya Rupiah Disebabkan Fiskal yang Goyah

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 5 Mei 2026, 17:00
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers APBN Kita Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers APBN Kita (Ntvnews.id-Muslimin Trisyulliono)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa membantah anggapan pelemahan rupiah disebabkan disebabkan fiskal yang goyah. 

Seperti diketahui, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Selasa 5 Mei 2026 pagi bergerak melemah 11 poin atau 0,07 persen menjadi Rp17.405 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.394 per dolar AS.

Purbaya menjelaskan, pihak yang lebih berwenang mengurusi rupiah adalah Bank Indonesia (BI)

"Orang juga banyak bilang Indonesia fiskalnya goyah maka rupiahnya melemah dan lain-lain. Kalau rupiah tanya BI ya, jangan tanya saya. Mereka yang berhak menjawab," ucap Purbaya dalam konferensi pers, Selasa 5 Mei 2026.

Baca juga: Purbaya Umumkan Defisit APBN Rp240,1 Triliun per Maret 2026

Kendati demikian, ia menekankan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat, terutama dari sisi ketahanan energi. 

Berdasarkan data JPMorgan, Indonesia termasuk negara dengan ketahanan tinggi dalam menghadapi potensi krisis energi global.

"Kalau kita lihat dari ketahanan energi kita itu amat kuat, kita nomor dua. Perbandingan ketahanan energi terhadap krisis energi global, kalau ada krisis global, kita nomor dua paling kuat dibanding negara-negara lain," bebernya.

Purbaya juga mengimbau masyarakat agar tidak terlalu khawatir terhadap berbagai spekulasi yang beredar mengenai kondisi ekonomi Indonesia. 

Baca juga: Purbaya Siapkan Subsidi Mobil dan Motor Listrik, Kuota Awal 100 Ribu Unit

Ia menilai sejumlah narasi yang membandingkan situasi saat ini dengan krisis 1998 tidak didukung oleh data yang akurat.

"Jadi di tengah krisis energi dan krisis global ini, kita fondasinya amat kuat. Jadi jangan takut kita perlu concern. Tapi nggak usah khawatir berlebihan. Apalagi yang di luar bilang kita mau hancur, Mau ini, mau itu, 97-98 saya nggak ngerti itu mereka tidak punya data yang akurat," tandasnya.

x|close