Ntvnews.id, Jakarta - Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro menilai kondisi sektor perbankan Indonesia saat ini masih berada dalam kondisi yang sangat solid di tengah tantangan ekonomi global dan meningkatnya tekanan pada segmen kredit tertentu.
Dalam acara Macro & Market Brief Q2-2026 Indonesia Economic Outlook yang digelar secara virtual di Jakarta, Senin, 11 Mei 2026, Andry mengatakan industri perbankan nasional masih mampu menjaga stabilitas dan ketahanan sistem keuangan secara keseluruhan.
“Memang secara relatif dan secara umum ya perbankan di Indonesia itu tidak ada masalah yang signifikan. Jadi kondisi perbankan di Indonesia masih sangat solid,” ujarnya.
Menurut Andry, salah satu faktor utama yang menjaga ketahanan industri perbankan adalah penerapan prinsip kehati-hatian yang ketat dalam menjaga kualitas aset. Meski tren non-performing loan (NPL) pada segmen menengah ke bawah mengalami peningkatan akibat tekanan ekonomi global, kondisi tersebut dinilai masih dapat diantisipasi dengan baik melalui sistem manajemen risiko yang kini jauh lebih kuat dibandingkan masa krisis sebelumnya.
Ia menjelaskan sektor perbankan saat ini memiliki cadangan likuiditas yang cukup untuk menghadapi berbagai potensi gejolak ekonomi. Stabilitas tersebut juga didukung kebijakan pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat melalui stabilisasi harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dengan memanfaatkan windfall fiskal.
Baca Juga: Bank Mandiri Bagikan Dividen Rp44,47 Triliun, DPS Naik Jadi Rp476,95
Selain itu, pertumbuhan kredit perbankan juga masih berada pada level yang sehat, yakni di kisaran high single digit hingga low double digit.
“Saya rasa ini adalah level-level yang memang relatif balance ya antara memanfaatkan cycle dari perekonomian dan di saat yang bersamaan juga memitigasi dari risiko ke kualitas aset ke depannya,” ungkap Andry.
Kesolidan industri perbankan nasional, lanjut dia, turut tercermin dari kondisi likuiditas yang sangat memadai. Pertumbuhan likuiditas perbankan tercatat mampu mencapai 21,2 persen dengan kualitas aset yang tetap terjaga di level 1 persen.
“Jadi ini sebenarnya suatu trust yang tetap dijaga oleh sektor perbankan di Indonesia,” ucap dia.
Baca Juga: Transaksi Luar Negeri Melonjak, Bank Mandiri Perluas QR Antar Negara ke Tiongkok
Ke depan, Andry menilai perbankan nasional juga mulai melakukan transformasi model bisnis dengan tidak lagi hanya mengandalkan pendapatan dari bunga pinjaman atau interest rate return.
Menurutnya, perkembangan infrastruktur digital membuka peluang besar bagi bank untuk meningkatkan pendapatan berbasis komisi atau fee-based income melalui transaksi digital yang terus berkembang.
(Sumber: Antara)
Tangkapan virtual Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro dalam Macro & Market Brief Q2-2026 Indonesia Economic Outlook di Jakarta, Senin (11/5/2026). ANTARA/ (Muhammad Baqir Idrus Alatas) (Antara)