A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Invalid argument supplied for foreach()

Filename: libraries/General.php

Line Number: 87

Backtrace:

File: /www/ntvweb/application/libraries/General.php
Line: 87
Function: _error_handler

File: /www/ntvweb/application/controllers/Read.php
Line: 64
Function: popular

File: /www/ntvweb/index.php
Line: 326
Function: require_once

Rupiah Anjlok, DPR Minta Purbaya hingga BI Jaga Kepercayaan Pasar - Ntvnews.id

Rupiah Anjlok, DPR Minta Purbaya hingga BI Jaga Kepercayaan Pasar

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 15 Mei 2026, 09:05
thumbnail-author
Moh. Rizky
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi Rupiah/Ist Ilustrasi Rupiah/Ist

Ntvnews.id, Jakarta - Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI meminta pemerintah dan Bank Indonesia (BI) menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Sebab, pelemahan rupiah yang menembus kisaran Rp17.500 per dolar AS menjadi sinyal adanya tekanan eksternal dan domestik yang terjadi secara bersamaan.

Walau begitu, Anggota Komisi XI DPR RI Marwan Cik Asan menegaskan, kondisi ekonomi Indonesia saat ini tidak bisa serta-merta disamakan dengan krisis 1998. Dirinya memandang fundamental ekonomi nasional masih relatif kuat.

"Cadangan devisa Indonesia masih berada pada level aman, rasio utang pemerintah terhadap PDB masih terkendali, sistem perbankan relatif sehat, dan rezim nilai tukar mengambang memberikan ruang penyesuaian alami terhadap guncangan global," ujar Marwan, dikutip Jumat, 15 Mei 2026.

Walau begitu, mengingatkan pelemahan rupiah tidak boleh dianggap sepele. Menurut Marwan, volatilitas nilai tukar yang terlalu tinggi dapat memicu imported inflation, meningkatkan biaya utang luar negeri, memperburuk persepsi pasar, hingga menekan daya beli masyarakat dan iklim investasi.

Karenanya, Marwan meminta pemerintah dan BI segera merespons situasi tersebut melalui kebijakan yang terukur, terkoordinasi, dan tidak berorientasi jangka pendek.

Baginya, BI perlu melanjutkan strategi stabilisasi melalui intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar offshore secara selektif.

Tapi Marwan mengingatkan, intervensi harus dilakukan dengan perhitungan matang agar tidak menggerus cadangan devisa secara berlebihan. Di samping itu, ia menekankan pentingnya penguatan komunikasi kebijakan BI untuk menjaga ekspektasi dan kepercayaan pasar.

"Dalam situasi tekanan pasar, persepsi sering kali lebih menentukan dibandingkan data fundamental itu sendiri. Karena itu, forward guidance yang jelas menjadi sangat penting untuk meredam spekulasi," jelas dia.

Di sisi lain, ia menyambut baik pembatasan pembelian dolar AS tanpa underlying transaction. Tapi ia berharap, implementasi kebijakan tersebut dilakukan secara hati-hati agar tidak memicu kepanikan baru di pasar.

Marwan pun mendorong pemerintah memperketat pengawasan terhadap repatriasi devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) yang selama ini masih banyak ditempatkan di luar negeri.

"Kebijakan DHE harus konsisten, tidak berubah-ubah, dan memberikan kepastian hukum agar pelaku usaha tetap percaya," kata dia.

Menurut Marwan, percepatan penggunaan skema Local Currency Settlement (LCS) dengan negara mitra dagang utama seperti China, Jepang, dan India juga menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi perdagangan internasional.

Di samping itu, ia menegaskan stabilisasi rupiah tidak bisa hanya dibebankan kepada BI. Kementerian Keuangan, kata dia, juga harus aktif menjaga stabilitas pasar surat utang negara melalui pengelolaan pembiayaan yang fleksibel dan optimalisasi instrumen stabilisasi pasar.

"Tantangan terbesar Indonesia saat ini bukan hanya tekanan global, tetapi bagaimana menjaga konsistensi kebijakan dan membangun kepercayaan pasar," tuturnya.

Perihal kebijakan suku bunga, Marwan menilai kenaikan suku bunga memang dapat membantu menahan capital outflow dan menjaga daya tarik aset domestik. Namun, kenaikan yang terlalu agresif juga berisiko menekan kredit, investasi, dan konsumsi domestik.

Ia mengatakan, stabilisasi jangka pendek memang penting untuk meredam gejolak. Tapi, solusi permanen hanya dapat dicapai melalui penguatan fundamental ekonomi, reformasi struktural, disiplin fiskal, serta kepastian kebijakan yang kredibel.

"Karena itu, pendekatan gradual dan data dependent menjadi pilihan paling rasional agar keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga," pungkasnya.

x|close