Rupiah Anjlok ke Rp17.673 per Dolar AS

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 18 Mei 2026, 11:01
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Tim Redaksi
Editor
Bagikan
Karyawan memperlihatkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Foto: ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/kye) Karyawan memperlihatkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Foto: ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/kye)

Ntvnews.id, Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menyentuh level Rp17.673 per dolar AS pada perdagangan Senin 18 Mei 2026.

Analis mata uang, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah tidak hanya dipicu faktor eksternal seperti penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak mentah dunia.

Akan tetapi, perlemahan rupiah juga dipengaruhi sentimen pasar terhadap pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait kurs rupiah.

Menurut Ibrahim, pernyataan Prabowo yang menyebut masyarakat desa tidak terdampak pelemahan rupiah karena tidak menggunakan dolar justru dinilai pasar sebagai respons yang meremehkan tekanan terhadap mata uang rupiah.

“Pernyataan dari Presiden Prabowo ini juga berakibat fatal terhadap perlemahan mata uang rupiah," ucap Ibrahim, Senin 18 Mei 2026.

Baca juga: DPR Panggil BI Hari Ini, Bahas Rupiah Anjlok?

Ilustrasi - Warga menjual mata uang dolar Amerika Serikat (AS) di Debe money changer, Banda Aceh, Aceh. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/Spt. <b>(Antara)</b> Ilustrasi - Warga menjual mata uang dolar Amerika Serikat (AS) di Debe money changer, Banda Aceh, Aceh. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/Spt. (Antara)

Lebih lanjut, ia menjelaskan penguatan dolar AS telah mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia yang berdampak langsung terhadap beban impor energi Indonesia. 

Menurutnya saat ini, impor minyak mentah nasional disebut mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari.

Ibrahim menilai pemerintah seharusnya lebih fokus memberikan solusi untuk menjaga stabilitas nilai tukar, termasuk mengantisipasi tingginya kebutuhan impor energi dan menyiapkan strategi penguatan rupiah.

“Seharusnya pemerintah memberikan satu masukan ya tentang bagaimana tentang kebutuhan minyak mentah yang cukup tinggi kemudian akan ada B50 sebagai pendamping ya dari bahan bakar fosil," ungkap Ibrahim.

"Kemudian bagaimana cara melakukan menangani krisis agar rupiah ini kembali mengalami penguatan. Nah ini yang seharusnya dilakukan oleh Presiden Prabowo," lanjutnya.

Baca juga: Rupiah Anjlok, DPR Minta Purbaya hingga BI Jaga Kepercayaan Pasar

Ia juga menyoroti bahwa masyarakat saat ini dinilai semakin memahami perkembangan ekonomi global, termasuk pergerakan dolar AS dan pasar saham, seiring perkembangan teknologi informasi hingga menjangkau wilayah pedesaan.

Menurut Ibrahim, komunikasi pemerintah yang tepat sangat penting untuk menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah yang terus berlanjut.

"Karena masyarakat yang ada di desa sekarang itu lebih pinter dibandingkan dengan masyarakat yang ada di kota," tandasnya.

x|close