A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Invalid argument supplied for foreach()

Filename: libraries/General.php

Line Number: 87

Backtrace:

File: /www/ntvweb/application/libraries/General.php
Line: 87
Function: _error_handler

File: /www/ntvweb/application/controllers/Read.php
Line: 64
Function: popular

File: /www/ntvweb/index.php
Line: 326
Function: require_once

Purbaya ingin Melakukan Pemutihan Rokok Ilegal, ICW Pertanyakan Komitmen Penegakan Hukum Pemerintah - Ntvnews.id

Purbaya ingin Melakukan Pemutihan Rokok Ilegal, ICW Pertanyakan Komitmen Penegakan Hukum Pemerintah

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 18 Mei 2026, 12:03
thumbnail-author
Beno Junianto
Penulis & Editor
Bagikan
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa merespons terkait dengan pemberitaan mengenai Program Pengungkapan Sukarela (PPS) atau dikenal dengan tax amnesty. Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa merespons terkait dengan pemberitaan mengenai Program Pengungkapan Sukarela (PPS) atau dikenal dengan tax amnesty. (Ntvnews.id-Muslimin Trisyuliono)

Ntvnews.id, Jakarta - Rencana Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberlakukan layer (golongan) baru cukai hasil tembakau (CHT) kembali menuai kritik dari kalangan masyarakat sipil. Kebijakan yang disebut sebagai upaya menarik produsen rokok ilegal masuk ke jalur legal itu dinilai justru melemahkan komitmen penegakan hukum pemerintah terhadap peredaran rokok ilegal.

Purbaya mengatakan layer baru tersebut disiapkan untuk menyaring produsen yang selama ini beroperasi secara ilegal agar masuk ke dalam sistem resmi pemerintah.

“Harapannya Juni sudah bisa jalan. Barang-barang ilegal masih banyak di sana. Jadi kalau itu keluar, nanti mereka bisa masuk ke layer tersebut. Dan kalau ada yang main-main, saya tutup betulan. Serius itu ancamannya,” kata Purbaya kepada wartawan, Senin (4/5/2026).

Sebaliknya, peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW), Seira Tamara, menilai pendekatan yang diambil pemerintah terkesan lebih mengakomodasi pelaku rokok ilegal dibanding memperkuat penegakan hukum.

“Kenapa tidak nyikatnya sekarang, Pak? Kenapa harus menunggu? Ada proses yang justifikasinya pun masih belum cukup make sense (masuk di akal) untuk diterima publik,” ujarnya.

ilustrasi Rokok <b>(DOK)</b> ilustrasi Rokok (DOK)

Menurut Seira, kebijakan yang memberi ruang bagi produsen ilegal untuk masuk ke dalam skema tarif baru cukai justru menunjukkan pemerintah sedang membuka ruang kompromi terhadap pelanggaran hukum yang selama ini terjadi. Hal ini bertentangan dengan komitmen yang selama ini digaungkan oleh Presiden Prabowo Subianto tentang penegakan hukum terhadap praktik-praktik ilegal tanpa pandang bulu.

“Itu justru sudah menunjukkan bahwa komitmennya bukan menegakkan hukum. Karena apabila komitmennya menegakkan hukum secara optimal, ruang perundingan seperti ini rasanya kemungkinan terjadinya sangat kecil,” katanya.

Seira menilai langkah pemerintah tersebut berpotensi memunculkan persepsi publik bahwa negara sedang melakukan “pemutihan” terhadap praktik ilegal yang selama ini merugikan negara dan masyarakat. Bagi Seira, persoalan rokok ilegal berkaitan dengan persoalan sistemik yang kompleks, mulai dari rantai distribusi hingga dugaan adanya perlindungan terhadap praktik ilegal tertentu.

“Dalam rantai distribusinya dari hulu ke hilir melibatkan masyarakat, sehingga kalau usaha ilegal tersebut kemudian ditindak (dilegalkan), pada akhirnya masyarakat akan ikut protes karena dianggap mengganggu mata pencaharian mereka juga. Jadi ini sebenarnya persoalan yang sangat kompleks. Masak Pak Purbaya solusinya tunggal dan sesimpel itu?” pungkasnya.

Baca Juga: Purbaya: Daya Beli Masyarakat Tumbuh Signifikan

x|close