Ntvnews.id, Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa, 19 Mei 2026, tercatat melemah ke level Rp17.714 per dolar AS
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah terjadi meski dolar AS dan harga minyak mentah dunia mulai terkoreksi setelah penundaan rencana serangan militer AS terhadap Iran.
"Rupiah dibuka kembali melemah terhadap dolar AS walau indeks dolar AS dan harga minyak mentah dunia sendiri terpantau sudah terkoreksi oleh ditundanya penyerangan militer AS ke Iran,"ucap Lukman.
Ia menambahkan, pelaku pasar kini menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan guna mendukung stabilitas rupiah.
Baca juga: Ini Alasan BI Optimistis Rupiah Menguat Mulai Juli 2026
"RDG BI besok juga diperkirakan akan menaikkan suku bunga untuk mendukung rupiah," ungkapnya.
Ia menilai pelemahan rupiah saat ini mencerminkan sentimen investor yang masih lemah terhadap pasar keuangan domestik.
Investor menganggap pemerintah dan Bank Indonesia kurang sigap dalam merespons tekanan yang terjadi sejak awal.
“Perlemahan ini mencerminkan sentimen yang lemah pada rupiah, investor menganggap pemerintah dan BI tidak cukup cepat bertindak dan menganggap ringan permasalahan di awal-awal," jelasnya.
Baca juga: BI: Cadangan Devisa Lebih dari Cukup untuk Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah
Adapun untuk perdagangan hari ini, Lukman memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp17.600 hingga Rp17.750 per dolar AS.
Pegawai menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Bank Syariah Indonesia, Tangerang Selatan, Banten. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj. (Antara)