Rupiah Diramal Terus Tertekan hingga Tembus Rp18.000 per Dolar AS

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 28 Mei 2026, 13:32
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Mata uang Rupiah dan Dolar AS/ist Mata uang Rupiah dan Dolar AS/ist

Ntvnews.id, Jakarta - Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan dan berpotensi menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) dalam waktu dekat. 

Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah telah melemah ke level Rp17.870 per dolar AS.

Menurutnya pelemahan Rupiah dipicu kombinasi faktor eksternal dan internal.

"Ada kemungkinan hari besok ya pembukaan pasar besok di hari Jumat (29/5) rupiah ini akan mendekati level Rp18.000 kemungkinan besar," ucap Ibrahim, Kamis 28 Mei 2026.

Baca juga: Rupiah Tembus Rp17.800, Purbaya: Saya Stres!

Ibrahim menjelaskan, dari faktor eksternal yang paling dominan berasal dari meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. 

Menurutnya memanasnya situasi setelah Amerika Serikat (AS) disebut melakukan serangan terhadap instalasi di Iran Selatan yang berpotensi memicu balasan dari Iran.

"Geopolitik di Timur Tengah semakin memanas dimana Amerika melakukan penyerangan terhadap instalasi yang ada di Iran, terutama adalah Iran Selatan. Yang inipun juga kemungkinan besar akan mendapat balasan setimpal dari pasukan Iran," ungkapnya. 

Kemudian dari sisi domestik, Ibrahim menilai pelemahan rupiah dipengaruhi kenaikan harga minyak dunia yang meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor energi. 

Kemudian ia juga menyoroti sejumlah persoalan program strategis pemerintah yang dinilai memengaruhi sentimen investor asing. 

Menurutnya, program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih menjadi perhatian pasar.

Baca juga: Purbaya Pastikan Pelemahan Rupiah Tak Ganggu Perhitungan APBN

"Nah ini yang membuat investor asing ketakutan dan membuat arus modal asing keluar cukup geras pada saat libur panjang ini," bebernya.

Meski Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi di pasar valuta asing, ia menilai tekanan yang berasal dari faktor eksternal dan internal terlalu besar untuk ditahan sepenuhnya.

"Kekuatan Bank Indonesia untuk melakukan intervensi ini sudah sekuat mungkin, tetapi kita harus tahu bahwa kekuatan eksternal dan internal ini cukup besar ya wajar kalau seandainya rupiah mengalami pelemahan," tandasnya.

x|close