Ntvnews.id, Jakarta - Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI) Kementerian Perdagangan melepas ekspor komoditas kopi dari Gudang SRG KAI-ASLI Gedebage, Bandung, menuju Tiongkok dan Maroko.
Dua kontainer kopi diekspor dengan total volume 38,4 ton senilai USD227.443,2.
Ekspor tersebut terdiri atas satu kontainer kopi Robusta Grade 2 sebanyak 19,2 ton senilai USD 71.040 dengan tujuan Maroko dan satu kontainer kopi Arabica Semi-Wash sebanyak 19,2 ton senilai USD 156.403,2 dengan tujuan Tiongkok.
“Pelepasan ekspor ini membuktikan, implementasi SRG yang optimal mampu memperkuat daya saing komoditas Indonesia, meningkatkan nilai tambah produk, serta membuka akses pasar internasional yang lebih luas bagi petani dan pelaku usaha,” tegas Kepala Bappebti Tirta Karma Senjaya dalam keterangannya, Minggu 19 Juli 2026.
Setelah pelepasan ekspor tersebut, direncanakan akan dilanjutkan pengiriman delapan kontainer kopi Arabica Semi Wash dengan total volume 153,6 ton senilai USD1.251.225,60 menuju Tiongkok. Seluruh komoditas kopi tersebut berasal dari Gudang SRG KAI-ASLI Gedebage.
“Keberhasilan implementasi SRG untuk ekspor ini merupakan hasil dari sinergi baik antara pemerintah pusat dan daerah bersama pelaku usaha. Optimalnya peran semua pihak sangat berpengaruh pada keberhasilan ini,” jelas Tirta.
Pihak yang terlibat dari mencakup petani yang tergabung dalam Koperasi Gunung Luhur Berkah, PT ASLI Logistik Indonesia sebagai agregator, PT Sucofindo selaku pengelola gudang SRG, PT Kereta Api Indonesia selaku pemilik gudang yang juga menginisiasi SRG Berbasis Rel, dan PT Kliring Berjangka Indonesia selaku pusat registrasi SRG.
Tidak ketinggalan, lembaga pembiayaan seperti Bank BJB maupun PT ASLI Pangan Indonesia yang menghimpun investor untuk ikut masuk dalam ekosistem SRG. Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kota Bandung juga memiliki peran yang strategis dalam mewujudkan ekosistem SRG ini dengan baik.
Pelepasan ekspor komoditas kopi ini juga memiliki makna yang sangat penting. Pertama, kopi yang disimpan melalui mekanisme SRG memiliki mutu yang terjaga dan mampu bersaing di pasar internasional.
Kedua, SRG bukan sekadar instrumen pembiayaan di dalam negeri, tetapi juga mampu menjadi mata rantai yang menghubungkan petani dan pelaku usaha kopi Indonesia dengan pasar global.
Baca juga: Dari Warung Kopi hingga Bengkel, Muncul 'Sosok' Teman Baru Pelaku Usaha di Era Digital
Selanjutnya, ekspansi pasar ke Tiongkok dan Maroko juga menjadi bukti bahwa komoditas kopi Indonesia terus mendapat kepercayaan dari mitra dagang internasional. Hal ini sekaligus membuka peluang diversifikasi pasar ekspor kopi Indonesia yang selama ini masih terkonsentrasi pada negara-negara tujuan tertentu.
“Ke depan, Bappebti akan terus mendorong optimalisasi pemanfaatan SRG sebagai instrumen ekosistem logistik dan pembiayaan yang kuat di hulu dan hilir sebagaimana yang diamanatkan dalam UU No. 9 Tahun 2006 jo UU No. 9 Tahun 2011. Melalui SRG, petani memiliki posisi tawar yang lebih kuat, memperoleh akses pembiayaan yang mudah, serta jaminan kualitas dan kuantitas komoditas,” terang Tirta.
kopi/Ist