Impor Minyak Indonesia Turun hingga 300 Ribu Barel per Hari Berkat Program B50

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 21 Jul 2026, 17:51
thumbnail-author
Annisa Aldifa Keyla
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di Kompleks Istana Kepresidenan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di Kompleks Istana Kepresidenan (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan kebijakan mandatori biodiesel B50 telah memberikan dampak signifikan terhadap penurunan impor minyak Indonesia. Menurutnya, kebutuhan impor yang sebelumnya berada di kisaran 1 juta barel per hari kini turun menjadi sekitar 700–750 ribu barel per hari.

Dalam pembukaan Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibition 2026 di Jakarta, Selasa, 21 Juli 2026, Bahlil mengatakan, “Kita konversi B50 itu, kita mampu memotong impor kita itu hampir 250–300 ribu barel per hari.”

Ia menjelaskan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) nasional saat ini mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari. Sementara itu, produksi minyak dalam negeri atau lifting masih berada pada kisaran 600–615 ribu barel per hari sehingga kebutuhan sisanya harus dipenuhi melalui impor yang sebelumnya mencapai sekitar 1 juta barel per hari.

Karena itu, pemerintah mulai mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dengan meningkatkan pemanfaatan energi alternatif, salah satunya melalui implementasi biodiesel B50.

Baca juga: Program B50 Diyakini Tekan Impor BBM Sekaligus Percepat Swasembada Energi

“Maka kemudian, perlahan-lahan kita geser dari fosil ke energi alternatif. Kemarin kita lakukan peresmian B50,” ujar Bahlil.

Ia menambahkan, konsumsi solar atau bahan bakar diesel di Indonesia mencapai sekitar 39 juta kiloliter setiap tahun. Dengan penerapan B50, kebutuhan impor minyak berhasil ditekan sekitar 250–300 ribu barel per hari.

“Jadi sekarang, impor minyak total itu masih ada kurang lebih sekitar 700–750 ribu barel per hari, dari selisih 1 juta barel itu,” kata Bahlil.

Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan Indonesia mulai menghentikan impor solar sejak Juli 2026 setelah pemerintah berhasil mengembangkan bahan bakar diesel B50 yang berbasis minyak sawit. Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi memperkuat kemandirian energi nasional.

Prabowo juga menyebut Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang mampu memproduksi B50, yakni bahan bakar solar dengan komposisi 50 persen biodiesel yang berasal dari minyak kelapa sawit.

Baca Juga: Qodari Sebut B50 Jadi Program Strategis Jaga Ketahanan Ekonomi dan Energi RI

Menurut Presiden, penghentian impor solar akan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar karena dana yang sebelumnya dialokasikan untuk membeli bahan bakar dari luar negeri kini dapat beredar di dalam negeri.

Selain menjalankan program B50, pemerintah juga mulai mengembangkan bensin dengan campuran etanol 10 persen (E10) sebagai tahap awal menuju pemanfaatan bioetanol yang lebih luas.

Pemerintah bahkan menargetkan peningkatan bauran bioetanol hingga E20. Untuk mendukung sasaran tersebut, pembangunan pabrik bioetanol baru akan dipercepat mengingat saat ini Indonesia baru memiliki satu fasilitas produksi bioetanol sehingga kapasitasnya masih perlu ditingkatkan.

(Sumber: Antara)

x|close