Ntvnews.id, Jakarta - Nilai tukar rupiah diproyeksikan masih bergerak fluktuatif terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pekan depan.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah berada dalam rentang Rp17.650 hingga Rp18.000 per dolar AS.
Untuk perdagangan Senin 21 September 2026, Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah dan berada di kisaran Rp17.750-Rp17.800 per dolar AS.
"Untuk perdagangan senin depan, 21 September 2026 mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp17.750 - Rp17.800," ucap Ibrahim dalam kajiannya dikutip, Minggu 20 September 2026.
Baca juga: Rupiah Jumat Pagi Menguat Rp17.743 per Dolar AS
Lebih lanjut, Ibrahim menilai pergerakan rupiah pada pekan depan masih akan menghadapi tekanan dan berpotensi bergerak cukup lebar, dengan rentang yang diperkirakan mencapai Rp17.650-Rp18.000 per dolar AS.
Adapun pada perdagangan Jumat 18 September 2026, rupiah ditutup melemah tipis 5 poin ke level Rp17.758 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.753.
Pergerakan rupiah pekan depan juga akan diwarnai oleh sejumlah sentimen salah satunya kondisi fiskal pemerintah.
Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Agustus 2026 tetap terjaga di level 0,9 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Adapun, defisit ini dicapai dengan catatan pendapatan negara lebih rendah dari belanja yakni Rp2.055,6 triliun atau mencapai 65,2 persen dari target dalam APBN 2026, sementara itu, belanja mencapai Rp2.295,7 triliun.
Dengan demikian, defisit mencapai Rp240,1 triliun atau 0,9 persen. APBN tetap kuat dengan keseimbangan primer positif Rp154 triliun dan defisit dalam batasan terkendali.
Baca juga:Rupiah Kamis Dibuka Melemah ke Rp17.739 per Dolar As
"Angka defisit ini sebelumnya sudah disampaikan Purbaya Yudhi Sadewa minggu lalu. Secara keseluruhan tahun, pemerintah memperkirakan defisit APBN hingga akhir tahun 2026 akan berada di sekitar 2,85 persen dari PDB (atau setara Rp734,3 triliun), sedikit di atas target awal APBN yang sebesar 2,68 persen PDB," ungkap Ibrahim.
Selain itu, kenaikan harga minyak mentah dunia akibat memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur dan fenomena El Nino pada tahun 2026 kembali menjadi perhatian pasar.
"Kondisi panas dan kering yang berlangsung disejumlah wilayah indonesia meningkatkan risiko terhadap sektor pertanian, ketersediaan air hingga kebakaran hutan dan lahan," tandasnya.
Petugas menghitung mata uang Rupiah dan Dolar AS di Ayu Masagung Money Changer, Jakarta. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww) (Antara)