Harga Minyak Dunia Diproyeksi Tembus USD102,50 per Barel Pekan Depan, Ini Biang Keroknya

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 20 Sep 2026, 19:30
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Dedi
Editor
Bagikan
Kapal kargo komersial dan kapal tanker minyak mentah yang berlabuh di Teluk Oman, lepas pantai Muscat, Oman, pada Sabtu, 21 Juni 2026, saat mereka bersiap untuk melintasi Selat Hormuz yang sangat penting. Lalu lintas maritim di sepanjang koridor perd Kapal kargo komersial dan kapal tanker minyak mentah yang berlabuh di Teluk Oman, lepas pantai Muscat, Oman, pada Sabtu, 21 Juni 2026, saat mereka bersiap untuk melintasi Selat Hormuz yang sangat penting. Lalu lintas maritim di sepanjang koridor perd (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Harga minyak mentah dunia diperkirakan masih berada pada level tinggi dalam perdagangan pekan depan.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan harga minyak mentah berada di kisaran USD90,30 hingga USD102,50 per barel.

"Untuk harga minyak mentah dunia kemungkinan besar ditransaksikan pekan depan itu di USD90,30 sampai USD102,50," ucap Ibrahim dalam kajiannya, Minggu 20 September 2026.

Ibrahim menyebut rentang itu menunjukkan harga minyak mentah masih berada pada level yang cukup tinggi.

Baca juga: Harga Minyak Mentah Indonesia Naik Jadi USD89,43 per Barel

Bahkan, harga minyak berpotensi bergerak melampaui USD102,50 per barel apabila ketegangan geopolitik di Timur Tengah semakin meningkat.

Ia menyebut salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah situasi di Selat Hormuz yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat (AS).

Ibrahim mengatakan kondisi di Laut Oman juga masih diwarnai tindakan pemblokiran oleh AS terhadap kapal-kapal yang melintasi kawasan Selat Hormuz.

Menurutnya terdapat kapal yang telah keluar dari kawasan tersebut dan diminta kembali menuju Selat Hormuz.

"Ini mengindikasikan bahwa ketegangan di Timur Tengah antara Amerika dan Iran pun juga semakin menjadi-jadi," lanjutnya.

Di tengah ketegangan tersebut, terdapat informasi mengenai rencana pertemuan antara pejabat Iran dan AS dalam agenda sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Namun, Ibrahim menilai pertemuan tersebut belum tentu langsung meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Dia menyebut persoalan terkait program dan fasilitas nuklir Iran masih menjadi salah satu isu utama yang berpotensi mempertahankan ketegangan antara kedua negara.

"Permasalahan utama itu adalah tentang reaktor nuklir yang ada di Iran, ini yang kemungkinan besar akan membuat ketegangan-ketegangan akan terus berlanjut," ungkap Ibrahim.

Baca juga: RAPBN 2027 Tetapkan Asumsi Harga Minyak Mentah Indonesia USD 75 per Barel

Ibrahim juga menyoroti pernyataan mengenai upaya perdamaian antara AS dan Iran yang dinilai belum sejalan dengan perkembangan di lapangan.

Meski terdapat pernyataan mengenai perdamaian, ia menegaskan aksi penyerangan dan ketegangan militer masih terus terjadi.

Di sisi lain, Ibrahim menilai perkembangan geopolitik tersebut memberikan dampak terhadap harga minyak dan perekonomian AS.

Kenaikan harga energi juga tercermin dari harga bensin atau gasoline di AS yang disebut telah mencapai sekitar USD6,5 per galon.

"Trump mengatakan bahwa selat hormuz aman-aman saja, tetapi harga minyak naik dan berdampak terhadap perekonomian di Amerika, sehingga harga gasolin sekarang sudah di USD6,5 per galon dan ini mengindikasikan bahwa implasi cukup tinggi," tadasnya.

x|close