Ntvnews.id, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Rabu 22 Juli 2026.
Adapun mata uang Garuda terkoreksi 42 poin atau 0,13 persen ke level Rp17.930 per dolar AS.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, perlemahan rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah yang kembali mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia.
Menurutnya kondisi tersebut turut menopang penguatan indeks dolar AS di pasar global.
"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah tensi geopolitik yang masih tinggi di Timur Tengah yang menyebabkan kenaikan harga minyak mentah dunia dan indeks dolar AS," ucap Lukman kepada Ntvnews.id, Rabu 22 Juli 2026.
Baca juga: Rupiah Perkasa ke Rp17.937 per Dolar AS Seiring Harapan Damai AS-Iran
Baca juga: Rupiah Perkasa ke Rp17.937 per Dolar AS Seiring Harapan Damai AS-Iran
Meski demikian, menurutnya pelemahan rupiah diperkirakan tidak akan berlangsung terlalu dalam.
Lukman menyebut pasar masih menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan diumumkan pada sore hari.
Investor, lanjut Lukman, mengantisipasi adanya kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 25 basis poin (bps), yang berpotensi memberikan dukungan terhadap stabilitas nilai tukar rupiah.
"Perlemahan diperkirakan terbatas, investor mengantisipasi kenaikan suku bunga 25 bps pada RDG BI sore ini," jelasnya.
Untuk perdagangan hari ini, pergerakan rupiah diperkirakan berada pada kisaran Rp17.850 hingga Rp18.000 per dolar AS.
Pegawai menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Bank Syariah Indonesia, Tangerang Selatan, Banten. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj. (Antara)