Kerek Pertumbuhan Ekspor Nasional, Pemerintah Perkuat Hilirisasi Industri Agro yang Inklusif

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 3 Agu 2026, 19:28
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Penulis & Editor
Bagikan
Pekerja mengangkut tandan buah segar (TBS) kelapa sawit saat panen di kawasan Desa Suak Raya, Johan Pahlawan, Aceh Barat, Aceh. ANTARA/Syifa Yulinnas/YU Pekerja mengangkut tandan buah segar (TBS) kelapa sawit saat panen di kawasan Desa Suak Raya, Johan Pahlawan, Aceh Barat, Aceh. ANTARA/Syifa Yulinnas/YU (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Pemerintah terus mendorong pengembangan hilirisasi industri agro sebagai salah satu strategi untuk meningkatkan ekspor nasional di tengah tantangan ekonomi global. Upaya tersebut sejalan dengan arah pembangunan yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.

Dalam RPJMN tersebut, terdapat 15 komoditas yang menjadi prioritas pengembangan industri hilirisasi. Untuk sektor agro, komoditas yang masuk dalam daftar prioritas meliputi kelapa sawit, kelapa, dan rumput laut. Sementara itu, komoditas seperti teh, kopi, rempah-rempah, serta tembakau memang belum termasuk dalam prioritas RPJMN, tetapi tetap dinilai memiliki peran penting dalam memperkuat hilirisasi agro sekaligus memperkokoh posisi Indonesia sebagai negara eksportir.

Menteri Perdagangan RI, Budi Santoso, mengungkapkan bahwa performa ekspor Indonesia pada April 2026 menunjukkan tren positif. Kenaikan tersebut terutama ditopang oleh peningkatan ekspor nonmigas sebesar 13,66 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Di sisi lain, ekspor migas justru mengalami kontraksi sebesar 9,81 persen secara bulanan.

"Beberapa komoditas nonmigas utama dengan pertumbuhan ekspor tertinggi, antara lain, kopi, teh, dan rempah-rempah yang meningkat 54,44 persen, tembakau dan rokok 43,49 persen," papar Budi belum lama ini.

Baca Juga: Riset Jadi Kunci Hilirisasi, BRIN Dorong Inovasi Bernilai Tambah untuk Perkuat Industri Nasional

Menurut Budi, meningkatnya permintaan dari sejumlah negara mitra dagang utama Indonesia turut menjadi faktor yang mendorong pertumbuhan ekspor pada periode tersebut. Ia juga menjelaskan bahwa sepanjang Januari hingga April 2026, industri pengolahan menjadi kontributor utama terhadap penguatan kinerja perdagangan nasional secara kumulatif.

Perhatian terhadap penguatan sektor agro juga mengemuka dalam kegiatan Member Gathering APINDO yang berlangsung pada Juni lalu. Dalam kesempatan itu, Pelaksana Tugas Deputi Bidang Koordinasi Industri, Ketenagakerjaan, dan Pariwisata Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, Dida Gardera, mendorong agar pengembangan industri agro menjadi fokus utama guna memperkuat industri pengolahan nasional.

Selain itu, Dida menilai investasi serta kemudahan dalam fasilitas penanaman modal merupakan faktor penting untuk memastikan hilirisasi agro dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Di sisi lain, sektor pertanian telah masuk ke dalam cakupan Satgas Percepatan Hilirisasi sebagaimana diatur dalam Keputusan Presiden Nomor 1 Tahun 2025. Ruang lingkupnya meliputi sektor pertanian, kehutanan, hingga kelautan dan perikanan. Meski demikian, hingga kini pemerintah dinilai belum memiliki rencana strategis yang komprehensif, misalnya dalam bentuk peta jalan untuk meningkatkan daya saing industri.

Baca Juga: Menteri Investasi Sebut Hilirisasi Perkuat Daya Saing Indonesia Secara Global

Wakil Kepala Kajian Iklim Bisnis dan Rantai Nilai Global Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI), Christina Ruth Elisabeth, menilai sektor agro memerlukan pendekatan yang berbeda dibandingkan sektor pertambangan.

"Diperlukan roadmap penguatan daya saing industri agro yang berbeda dari sektor pertambangan karena karakteristik dan dampaknya lebih inklusif. Roadmap hilirisasi yang ada saat ini masih berfokus pada sektor mining," ujarnya.

Ruth menjelaskan bahwa proses hilirisasi pada industri agro sebenarnya telah berlangsung, terutama dari sisi ekspor produk olahan. Namun, perkembangannya masih belum merata di seluruh komoditas. Ia menilai komoditas tembakau dan kelapa sawit telah menunjukkan kinerja yang relatif kuat dalam ekspor produk hilir, sedangkan kopi dan kakao masih didominasi ekspor bahan mentah maupun produk antara.

Menurutnya, industri tembakau dan kelapa sawit menjadi contoh penerapan hilirisasi yang mampu memberikan dampak luas, mulai dari penyerapan tenaga kerja, peningkatan investasi pada fasilitas produksi, hingga penyerapan hasil panen petani sebagai bahan baku industri. Kedua sektor tersebut juga dinilai memberikan kontribusi terhadap peningkatan ekspor nasional.

Secara keseluruhan, sektor agrikultur Indonesia masih memiliki peluang besar untuk meningkatkan daya saing sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Potensi tersebut dapat diwujudkan melalui peningkatan investasi, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan ekspor, yang didukung oleh kebijakan pemerintah yang menyeluruh dan bersifat inklusif.

HIGHLIGHT

x|close