Ntvnews.id, Jakarta -Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita memberikan kejelasan mengenai isu pemutusan hubungan kerja (PHK) yang menimpa 178 buruh PT Namnam Fashion Industries di Kota Cimahi, Jawa Barat.
Saat ditemui di Jakarta pada Kamis, Menperin Agus menjelaskan bahwa perusahaan garmen tersebut memiliki tiga fasilitas produksi. Dua di antaranya kini terpaksa dinonaktifkan sebagai langkah penyesuaian bisnis.
"Mereka punya tiga fasilitas produksi, yang dua dinonaktifkan, karena apa? Karena mereka dalam balance sheet-nya itu income-nya terlihat memang terus-menerus declining," kata dia.
Agus menilai tekanan finansial yang dialami PT Namnam Fashion Industries kemungkinan erat kaitannya dengan dinamika penyerapan produk di pasar ekspor yang melemah, sehingga manajemen harus mengambil tindakan penyesuaian operasional. Kendati demikian, pemerintah memastikan pengawasan tetap berjalan terhadap unit usaha yang masih bertahan.
Baca juga:Perusahaan Istri Menperin Agus Gumiwang Digugat PKPU
"Yang satu masih up and running, jadi kita pantau itu," ucapnya.
Meskipun terdapat kasus penutupan fasilitas di Cimahi, Agus menegaskan bahwa industri manufaktur secara umum masih konsisten menyerap tenaga kerja. Hal ini merujuk pada laporan terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat tren pertumbuhan positif di sektor tersebut.
"Tapi kalau kita bicara soal ketenagakerjaan, kita melihat bahwa report atau rilis dari BPS kemarin, itu jelas-jelas menyatakan bahwa sektor manufaktur itu mencetak 0,09 persen pertumbuhan dari ketenagakerjaan, 0,09 persen mencetak tenaga kerja baru, terlihat dalam presentasenya kecil, tapi harus juga paham bahwa size-nya besar," jelas Agus.
Merujuk data BPS, sektor industri pengolahan menyumbang 13,53 persen terhadap total penyerapan tenaga kerja nasional dari keseluruhan penduduk bekerja yang mencapai 148,19 juta orang.
Menanggapi fenomena PHK di wilayahnya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengimbau para pekerja terdampak untuk bersikap fleksibel dan bersedia berpindah daerah mengikuti pergeseran peta kawasan industri padat karya. Mantan Bupati Purwakarta tersebut menggarisbawahi sifat industri garmen yang dinamis dan sangat sensitif terhadap biaya produksi serta Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK).
"Garmen itu selalu problem. Sektornya biasanya padat karya. Perusahaan-perusahaan padat karya memang secara umum begitu (mudah berpindah)," ujar Dedi Mulyadi di Cimahi, Selasa (4/8).
Menurut Dedi, relokasi pabrik padat karya yang telah mencapai titik impas (break-even point/BEP) ke daerah dengan biaya tenaga kerja lebih terjangkau merupakan hal lazim dalam siklus bisnis garmen.
(Sumber:Antara)
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita ditemui usai acara Official Launching Indo Startup Expo & Forum 2026 di Jakarta, Kamis (6/8/2026) (Antara)