Ntvnews.id, Jakarta - Memasuki usia ke-81 tahun kemerdekaannya, Indonesia semakin mengukuhkan diri sebagai kekuatan ekonomi global dengan mendominasi berbagai sektor komoditas strategis, mulai dari hasil tambang, perkebunan, hingga kekayaan laut.
Langkah hilirisasi menjadi kunci utama dalam transformasi Indonesia dari sekadar pengekspor bahan mentah menjadi penyedia produk bernilai tambah tinggi di pasar internasional.
Dikutip dari Nusantara Insight, Rabu, 19 Agustus 2026, Dominasi Sektor Tambang dan Energi Di sektor pertambangan, Indonesia resmi menjadi pusat industri nikel dunia. Data menunjukkan bahwa nilai ekspor produk nikel pada periode Januari hingga Juni 2026 menembus 6,54 miliar dolar AS, melonjak 69,3% secara tahunan (YoY) meskipun secara volume mengalami penurunan.
Keberhasilan ini didorong oleh kebijakan larangan ekspor bijih mentah dan investasi besar-besaran pada pembangunan smelter.
Baca Juga: Rosan: Hilirisasi Nikel Jadi Kunci Pengembangan Motor Listrik Nasional
Selain nikel, Indonesia tetap menyandang gelar sebagai eksportir batu bara terbesar dunia dengan volume ekspor mencapai 50 juta ton sepanjang tahun 2025, meskipun kini tengah menghadapi tantangan transisi energi global.
Raja Minyak Nabati dan Perkebunan Indonesia juga mempertahankan posisinya sebagai Raja Sawit Dunia dengan menguasai 57% produksi global.
Dengan luas perkebunan mencapai 14 juta hektar, produksi pada musim 2025/2026 diproyeksikan mencapai 46,7 juta ton.
Tak hanya sawit, kekayaan hayati lainnya seperti kelapa juga menunjukkan performa gemilang dengan lonjakan nilai ekspor sebesar 55% menjadi 163,2 juta dolar AS pada periode Januari-Agustus 2025.
Baca Juga: Dukung Hilirisasi Koperasi Sawit, Menkop Targetkan Produksi Minyak Goreng Mandiri
Di sektor rempah-rempah, Indonesia masih tak tertandingi sebagai pemasok utama dunia. Indonesia berkontribusi terhadap 70% produksi cengkih dunia (134.000–136.000 ton per tahun) dan 40% kebutuhan kayu manis global.
Potensi Laut dan Tantangan Impor Dari sektor kelautan, Indonesia memegang peran strategis sebagai pemasok rumput laut dengan volume ekspor 251.071 ton senilai 284,8 juta dolar AS.
Namun, tantangan besar masih membentang karena sekitar 88% ekspor rumput laut masih berupa bahan mentah yang ditujukan ke China, sehingga diperlukan akselerasi hilirisasi domestik agar nilai tambah dapat dinikmati oleh masyarakat pesisir.
Di sisi lain, meskipun berjaya dalam ekspor komoditas utama, Indonesia masih mencatatkan nilai impor yang cukup tinggi untuk sektor buah-buahan. Pada tahun 2025, impor anggur segar mendominasi dengan nilai mencapai lebih dari 548 juta dolar AS, diikuti oleh apel dan jeruk mandarin.
Menuju Masa Depan Berkelanjutan Strategi pemerintah kini berfokus pada penguatan struktur industri, dari yang semula hanya mengekspor bahan baku menjadi penyedia energi nasional dan produk olahan bernilai tinggi.
Dengan memaksimalkan potensi keberagaman varietas lokal dan hilirisasi, Indonesia optimistis dapat terus memimpin pasar global sekaligus meningkatkan kesejahteraan rakyat di dalam negeri.
Indonesia: Sang Raja Komoditas Dunia &Transformasi Nilai Tambah (Foto dibuat oleh AI dengan sumber data Nusantara Insight)