Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Transmigrasi (Mentrans) Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara mengungkapkan Program Trans Tuntas mendorong lahan-lahan transmigrasi lebih produktif dalam konteks ekonomi.
Dia juga menyampaikan bahwa sejumlah pengusaha menemui dirinya karena ingin mendapatkan izin untuk pelaksanaan transmigrasi.
"Beberapa pengusaha menemui saya, ingin mendapatkan izin untuk pelaksanaan transmigrasi, dan ternyata kita makin tahu sekarang ini tanah-tanah transmigrasi itu bukan lagi soal hanya tanah pertanian, tapi ada pertambangan, ada untuk wisata, kemudian ada untuk potensi-potensi lainnya," katanya.
Oleh karena itu Kementerian Transmigrasi ingin melihat bahwa potensi lahan tersebut betul-betul produktif dan tidak sekadar menjadi ajang pembagian tanah semata.
Program Trans Tuntas merupakan langkah penyelesaian menyeluruh atas berbagai persoalan lahan di kawasan transmigrasi, termasuk sengketa, ketidakjelasan status hak, hingga konflik agraria.
Melalui skema pendataan, penyelesaian hukum, sertifikasi, serta revitalisasi dan optimalisasi lahan, program ini hadir untuk memberikan kepastian hak bagi para transmigran sekaligus memacu pemanfaatan lahan agar lebih berdaya guna secara ekonomi.
Dengan mengusung pendekatan kolaboratif dan pemantauan berbasis teknologi, Trans Tuntas menjadi solusi strategis dan adil demi mewujudkan kawasan transmigrasi yang tertata, legal, dan produktif.
Prinsip transmigrasi kini bukan lagi sebatas memindahkan penduduk antarwilayah, melainkan membuka peluang baru demi taraf hidup yang lebih baik. Guna memastikannya berjalan efektif dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat, Kementerian Transmigrasi RI meluncurkan lima program unggulan yang dinamai Program 5T.
Inisiatif ini dirancang khusus untuk mempercepat penanganan masalah, menggenjot kesejahteraan masyarakat transmigran, serta membentuk pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru yang berdaya saing tinggi.
Menteri Transmigrasi (Mentrans) Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara menyampaikan pidato dalam kegiatan Transmigration Executive Dialogue: Strategic Lecture & Policy Forum di Jakarta, Senin (24/8/2026) (Antara)