Proyek PLTS 100 GWp, Bahlil Utamakan Peran IPP

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 26 Agu 2026, 10:29
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Seorang petugas mengambil gambar dari sebuah Battery Energy Storage System (BESS) PLTS yang berlokasi di Gilimanuk, Bali, Selasa (25/8/2026). Seorang petugas mengambil gambar dari sebuah Battery Energy Storage System (BESS) PLTS yang berlokasi di Gilimanuk, Bali, Selasa (25/8/2026). (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta -Pemerintah mendorong pihak swasta atau Independent Power Producer (IPP) untuk mengambil peran utama dalam menggarap proyek megah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp). Peluang bagi produsen listrik independen ini dibuka lebar, selama tarif energi yang ditawarkan tetap efisien bagi publik.

Penegasan tersebut disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat acara Launching dan Groundbreaking Program PLTS 100 GWp di Gilimanuk, Bali, Selasa (25/8).

“Kami laporkan bahwa ini yang pertama adalah kami mendorong IPP. Kalau harganya kompetitif, kami kasih IPP,” ujar Bahlil.

Meski demikian, Bahlil menegaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan opsi cadangan. Apabila harga listrik yang dihasilkan dinilai tidak kompetitif atau kurang diminati oleh swasta, pemerintah siap mengambil alih proyek melalui pembiayaan Danantara. Skema pengambilalihan ini bakal dijalankan sesuai petunjuk Presiden Prabowo Subianto agar tetap efisien, efektif, serta terjangkau oleh masyarakat.
 

Dalam kesempatan yang sama, pemerintah mengumumkan 14 proyek PLTS berkapasitas total 5,3 GWp dengan nilai investasi mencapai sekitar 7,7 miliar dolar AS atau setara Rp135 triliun. Secara keseluruhan, pengoperasian lini pembangkit surya ini berpotensi menghemat anggaran negara (APBN) hingga Rp4,6 triliun per tahun.

Portofolio 14 proyek tersebut terbagi ke dalam beberapa tahap pengembangan. Kategori terbesar mencakup enam proyek yang siap ditender dengan total kapasitas mencapai 4.548,92 megawatt peak (MWp).

Di Jawa Barat, proyek yang siap dilelang meliputi PLTS Terapung Jatiluhur berkapasitas 1.688 MWp di Waduk Jatiluhur, PLTS Terapung Cirata berkapasitas 1.250 MWp di Waduk Cirata, PLTS Terapung Jatigede berkapasitas 636 MWp di Waduk Jatigede Sumedang, serta PLTS Lahan Bank Tanah Purwakarta sebesar 69 MWp.

Sementara dua proyek siap tender lainnya dirancang untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM) di kawasan kepulauan. Pertama, PLTS+BESS Klaster Madura berkapasitas 605 MWp di Sumenep, Jawa Timur, yang disiapkan guna mendukung program Fat Burning Madura. Kedua, PLTS Bali berkapasitas 300 MWp di Gilimanuk, Jembrana, Bali, yang ditujukan untuk mengeliminasi penggunaan BBM di Pulau Dewata.
 

Selain proyek yang siap ditender, tiga lokasi lain kini resmi memasuki tahap pemancangan batu pertama (groundbreaking). Ketiganya adalah PLTS Banyuwangi berkapasitas 130,2 MWp, PLTS Pasuruan sebesar 132 MWp, dan PLTS Terapung Gajah Mungkur berkapasitas 134,2 MWp.

Progres signifikan juga terlihat pada tiga proyek lain yang tengah menjalani masa konstruksi. PLTS Terapung Karangkates berkapasitas 133 MWp kini telah mencatatkan progres pembangunan sebesar 56,54 persen, disusul PLTS Terapung Saguling 92 MWp dengan capaian 44,4 persen, serta PLTS Tembesi 46 MWp yang menyentuh angka 65 persen.

Sebagai pelengkap dari jajaran pembangkit skala besar, dua proyek PLTS berbasis kepulauan resmi diresmikan, yakni PLTS Pulau Sembur di Kepulauan Riau berkapasitas 0,92 MWp serta PLTS Pulau Rengit di Bangka Belitung berkapasitas 0,078 MWp.
 
(Sumber: Antara)
 

HIGHLIGHT

x|close