Ntvnews.id, Jakarta -Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara menilai capaian pertumbuhan ekonomi Batam sebesar 7,28 persen pada triwulan II 2026 menjadi bukti nyata kuatnya potensi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di luar Pulau Jawa.
Angka pertumbuhan tahunan ini melampaui laju ekonomi Provinsi Kepulauan Riau yang berada di angka 6,99 persen, serta melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.
"Pertumbuhan ekonomi Batam sebesar 7,28 persen patut kita apresiasi. Capaian ini menunjukkan bahwa industrialisasi dan investasi di luar Pulau Jawa mampu menjadi mesin pertumbuhan baru bagi perekonomian nasional," ujar Iftitah dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu (9/9).
Laju pesat ekonomi Batam disokong oleh tingginya aktivitas di sektor industri, investasi, perdagangan, logistik, dan jasa. Berdasarkan data Badan Pengusahaan (BP) Batam, realisasi investasi berdasarkan Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) semester I 2026 telah menembus Rp29,89 triliun. Angka tersebut terdiri atas Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp17,80 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) Rp12,09 triliun, atau telah mencapai 42,70 persen dari target investasi tahun 2026 yang sebesar Rp70 triliun.
Pada triwulan I 2026, sektor industri mesin dan elektronik memimpin perolehan investasi dengan porsi 23,65 persen, disusul industri kimia dan farmasi sebesar 21,18 persen. Gairah investasi ini turut mengerek penyerapan tenaga kerja dari 30.979 orang pada semester I 2025 menjadi 40.943 orang pada semester I 2026, atau bertambah sebanyak 9.964 pekerja.
Kendati tumbuh pesat, Iftitah mengingatkan agar capaian tinggi ini dibarengi dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat lewat pembukaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan, serta penguatan usaha lokal.
“Target kita bukan sekadar pertumbuhan yang tinggi, tetapi pertumbuhan yang semakin merata dan inklusif. Kemajuan Batam harus membuka lebih banyak pekerjaan, kesempatan berusaha, dan peluang ekonomi bagi masyarakat lokal serta wilayah sekitarnya,” tuturnya.
Ia menilai keberhasilan Batam memberikan angin segar bagi jajarannya dalam mengeksekusi skema Transmigrasi Baru. Lewat kebijakan ini, lokasi transmigrasi diposisikan bukan sekadar area pemukiman, melainkan ekosistem ekonomi utuh yang terintegrasi dengan industri, investasi, SDM, dan pasar.
Pelajaran penting dari Batam, menurut Iftitah, membuktikan bahwa pusat ekonomi di luar Jawa dapat berkembang cepat selama didukung perencanaan matang, kepastian hukum berusaha, infrastruktur andal, serta SDM yang mumpuni. Ditambah lagi, posisi strategis Batam yang berhadapan langsung dengan pasar Asia Tenggara makin memperkokoh perannya sebagai hub industri, logistik, dan ekonomi digital.
Kementerian Transmigrasi berkomitmen untuk terus mempererat sinergi bersama pemerintah daerah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat guna membangun pusat-pusat pertumbuhan baru.
“Batam telah menunjukkan potensinya sebagai mesin pertumbuhan baru Indonesia. Tugas kita sekarang adalah menjaga momentumnya, memperluas manfaatnya, dan memastikan setiap pertumbuhan benar-benar meningkatkan kualitas hidup rakyat,” tegas Iftitah.
(Sumber: Antara)
Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara (tengah) (Antara)