Ntvnews.id, Jakarta - Hilirisasi sektor agro dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat kinerja ekspor sekaligus meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. Sejumlah komoditas seperti kopi, kakao, dan tembakau telah menunjukkan kapasitas untuk dikembangkan lebih jauh melalui produk olahan.
Wakil Kepala Kajian Iklim Bisnis dan Rantai Nilai Global LPEM FEB UI Christina Ruth Elisabeth mengatakan sektor agro termasuk strategis karena memiliki keterkaitan yang kuat, baik dengan sektor hulu maupun hilir.
Berdasarkan kajian keterkaitan input-output industri agro yang menggunakan data Badan Pusat Statistik (BPS), Christina menyebut tembakau, kakao, dan kopi telah memiliki nilai keterkaitan di atas satu.
“Ini memang keterkaitan ke depannya tinggi dan strategis untuk dikembangkan,” ujar Christina dalam keterangannya, Rabu, 16 September 2026.
Menurut Christina, pengembangan hilirisasi pertanian juga berpotensi memberikan dampak ekonomi yang lebih luas kepada masyarakat. Salah satunya terlihat dari kemampuan industri hasil tembakau (IHT) menyerap berbagai input dari sektor hulu.
Input tersebut antara lain berasal dari bibit, pupuk, pestisida, mesin pertanian, hingga jasa logistik. Rantai keterkaitan tersebut membuat aktivitas industri turut memberikan dampak ekonomi hingga ke tingkat masyarakat yang berada di sektor dasar.
Baca Juga: Mendes Yandri Dorong Hilirisasi Jeruk untuk Tingkatkan Nilai Jual di Malang
“Hilirisasi di sektor pertanian ini sangat berpotensi meningkatkan kesejahteraan petani yang ada di hulu. Jadi pertumbuhan ekonominya, jika kita mendorong hilirisasi pertanian atau industri berbasis bahan baku agro, lebih inklusif sebenarnya dibandingkan dengan sektor mineral,” jelas Christina.
Ia juga melihat peluang ekspor produk olahan dari industri hilir agro masih dapat diperluas. Menurutnya, peningkatan nilai tambah dapat dilakukan dengan mengembangkan produk yang lebih beragam sekaligus memperluas jangkauan pasar.
“Melalui apa? Menurut saya melalui perluasan produk olahan, diversifikasi, kemudian penetrasi di pasar regional, dan juga tetap mendapatkan kontribusi di dalam nilai tambah domestik,” jelas Christina.
Christina meyakini perluasan ekspor produk hilir dapat memberikan tambahan nilai ekonomi yang signifikan. Ia memperkirakan pemerintah berpotensi memperoleh tambahan PDB hingga 10 kali lipat apabila hilirisasi sektor tersebut terus dikembangkan.
“Artinya bahwa hilirisasi ini sangat berpotensi untuk memberikan tambahan PDB, khususnya di sektor pertanian tadi,” pungkasnya.
Peluang tersebut sejalan dengan perkembangan pasar makanan dan minuman artisan dunia. Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza mengatakan pasar tersebut tengah mengalami pertumbuhan. Nilainya pada 2025 diperkirakan mencapai US$332 miliar dan diproyeksikan meningkat menjadi US$627,3 miliar pada 2032.
Baca Juga: Perkuat Hilirisasi, Rosan Dukung Pabrik Olahan Kelapa Morowali
Menurut Faisol, kondisi tersebut dapat menjadi peluang bagi Indonesia yang memiliki kekayaan sumber daya hayati sebagai modal untuk mengembangkan industri berbasis agro. Indonesia juga dinilai memiliki kesempatan mengambil peran lebih besar dalam pengembangan industri agro di antara negara-negara anggota BRICS.
Ketersediaan sumber daya hayati tersebut, kata Faisol, dapat menjadi dasar untuk memperkuat industri agro sekaligus membuka ruang kerja sama dengan negara-negara BRICS. Pemerintah disebut telah mempersiapkan Indonesia untuk mengambil peran lebih besar dalam industri agro global.
“Kenapa kami mengusulkan? Karena Indonesia memiliki kekuatan yang besar sekali untuk menjadi negara berbasis agro-industri yang bisa membantu berbagai bangsa dan berbagai negara untuk mengembangkan agro-industri seperti yang ada di Indonesia,” ujar Faisol belum lama ini.
Ia menyebut tembakau, kopi, dan produk olahan kakao sebagai sejumlah subsektor yang memiliki prospek untuk terus dikembangkan.
Untuk tembakau, Indonesia tercatat sebagai eksportir produk hasil tembakau terbesar keenam di dunia. Salah satu produk unggulannya adalah cerutu premium yang menggunakan tembakau Deli dan Besuki serta telah memiliki pasar global.
“Industri hasil tembakau, kinerja ekspor industri hasil tembakau juga menunjukkan kemampuan yang kuat menempatkan Indonesia sebagai eksportir terbesar keenam. Salah satu produk hasil tembakau unggulan adalah cerutu premium berbasis tembakau Deli dan Besuki yang telah diakui pasar global,” katanya.
Baca Juga: Gelar Pertemuan di Hambalang, Prabowo Dorong Percepatan Hilirisasi dan Penataan BUMN
Di sektor kopi, Indonesia merupakan produsen terbesar keempat dunia. Ekspor kopi olahan Indonesia tercatat mencapai US$692 juta atau meningkat 4,36%.
Sementara itu, Indonesia berada di posisi keempat sebagai produsen produk olahan kakao dan menempati peringkat ketujuh dunia untuk produksi biji kakao.
Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Jeffrey Haribowo mengatakan sebagian besar kakao Indonesia yang diekspor saat ini sudah berbentuk produk olahan. Produk tersebut antara lain cocoa butter, cocoa powder, dan cocoa liquor.
“Namun demikian, kenyataan bahwa saat ini sebagian besar bahan baku industri kakao di Indonesia masih dari impor, maka nilai tambah dalam perdagangan belum bisa optimal,” katanya.
Impor biji kakao masih dibutuhkan untuk memenuhi kekurangan pasokan bahan baku dalam negeri. Saat ini kebutuhan industri kakao nasional mencapai sekitar 450.000 ton per tahun, sementara produksi domestik belum mampu mencukupi seluruh kebutuhan tersebut.
Jeffrey menambahkan, penggunaan bahan baku impor juga berkaitan dengan kebutuhan produsen terhadap karakteristik rasa tertentu dalam produk cokelat maupun makanan dan minuman yang menggunakan bahan dasar cokelat.
Baca Juga: Hilirisasi Sawit Buka Jalan UMKM Tembus Pasar Ekspor
“Selain itu, impor biji kakao akan tetap diperlukan untuk menghadirkan cita rasa yang diharapkan dari produsen cokelat dan/atau produk makanan/minuman yang mengandung produk cokelat,” tuturnya.
Untuk memperkuat pasokan domestik, Jeffrey mengapresiasi rencana pemerintah melakukan peremajaan perkebunan kakao seluas 240 ribu hektare hingga 2027. Program tersebut akan didukung melalui pendanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Menurutnya, kolaborasi tersebut diharapkan mampu mendorong produktivitas sekaligus meningkatkan produksi kakao nasional. Dengan begitu, kebutuhan bahan baku bagi industri pengolahan dapat semakin banyak dipenuhi dari dalam negeri.
Peluang pengembangan industri agro juga tercermin dari perkembangan ekspor nasional. Menteri Perdagangan RI (Mendag) Budi Santoso mencatat nilai ekspor Indonesia pada April 2026 mencapai US$25,30 miliar.
Kinerja tersebut ditopang oleh ekspor nonmigas yang tumbuh 13,66%, meskipun ekspor migas mengalami penurunan 9,81%.
"Beberapa komoditas nonmigas utama dengan pertumbuhan ekspor tertinggi, antara lain, kopi, teh, dan rempah-rempah yang meningkat 54,44%, tembakau dan rokok 43,49%," ujarnya.
Jika dihitung selama Januari-April 2026, nilai ekspor Indonesia mencapai US$92,15 miliar. Angka tersebut meningkat 5,48% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Ekspor nonmigas menyumbang US$87,74 miliar setelah tumbuh 6,28%.
Budi menyebut peningkatan tersebut salah satunya didorong oleh kinerja sektor industri pengolahan yang ekspornya tumbuh 9,78%.
"Pertumbuhan ekspor komoditas-komoditas tersebut didorong tingginya permintaan global yang diikuti kenaikan harga di pasar internasional. Kondisi tersebut memberikan dampak positif terhadap kinerja ekspor industri pengolahan Indonesia," kata Budi.
Pohon kopi liberika yang ditanam di Kalimantan Barat. (Antara)