Bank Indonesia Ungkap Pelemahan Rupiah Dipicu Kekhawatiran Tensi Geopolitik

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 21 Sep 2026, 17:37
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Zaki Islami
Editor
Bagikan
Arsip - Pegawai menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Bank Syariah Indonesia, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (21/1/2026). Arsip - Pegawai menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Bank Syariah Indonesia, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (21/1/2026). (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta -Nilai tukar rupiah mengalami tekanan di tengah kekhawatiran eskalasi geopolitik Timur Tengah yang membuat harga minyak bertahan di atas 100 dolar AS per barel.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI), Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa situasi tersebut turut mendongkrak risiko inflasi global sekaligus memberi tekanan pada outlook fiskal.

"Tekanan nilai tukar juga didorong oleh kebutuhan valas importir serta arus keluar dana dari portofolio aset domestik," ujar Erwin di Jakarta, Senin (21/9).

Sebagai langkah antisipasi, BI berkomitmen untuk terus hadir di pasar guna memastikan mekanisme berjalan optimal dan stabilitas rupiah terjaga sesuai fundamentalnya. Upaya ini dijalankan lewat pengelolaan struktur suku bunga pasar uang serta penguatan strategi operasi moneter pro-market.
 

Selain itu, bank sentral memperkuat stabilisasi nilai tukar dan kecukupan likuiditas melalui transaksi underlying untuk swap lindung nilai berinsentif. Erwin menambahkan, intervensi konsisten juga dilakukan secara berkesinambungan lewat transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

"Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar terus dilakukan secara intensif, antara lain untuk mendorong arus masuk modal asing dengan mengoptimalkan insentif yang telah diberikan, serta mendiversifikasi permintaan valas melalui skema Local Currency Transaction (LCT)," terang Erwin.

Kendati demikian, pergerakan rupiah dinilai masih sejalan dengan tren mata uang regional dengan catatan penguatan secara quarter to date (qtd) sebesar 0,37 persen. Posisi cadangan devisa nasional juga tercatat mengalami peningkatan hingga menyentuh level 146,5 miliar dolar AS pada akhir Agustus 2026.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada Senin sore, kurs rupiah berada di posisi Rp17.813 per dolar AS. Angka tersebut menunjukkan pelemahan sebesar 0,38 persen jika dibandingkan posisi pada Jumat (18/9) yang berada di level Rp17.745 per dolar AS.
 
 
(Sumber: Antara)
 
x|close